• Breaking News

    Kematian penata rias wajah Palestina yang mengangkat masalah kekerasan rumah tangga

    Israa Ghrayeb Image caption Israa Ghrayeb adalah seorang penata rias wajah terkenal di Tepi Barat.

    Ketika seorang perempuan muda Palestina dibawa ke rumah sakit Al Huyssein karena patah tulang belakang dan memar di tubuh dan wajah, para dokter kembali harus menangani sebuah kasus cedera traumatis.

    Semua orang di sini memang sudah terbiasa dengan pasien usia muda yang mengalami luka parah.

    Tetapi cerita Israa Ghrayeb berbeda.

    Kisahnya mengungkapkan tragedi, protes dan pencarian diri dalam kaitannya dengan perlindungan perempuan dari kekerasan gender dalam masyarakat Palestina.

    “Ini adalah titik balik sangat penting dan kita akan selalu mengingat Israa Ghrayeb,” kata Randa Siniora dari Pusat Bantuan Hukum dan Konseling Perempuan Palestina.

    Kurang dua minggu setelah dirinya pertama kali dirawat pada tanggal 10 Agustus, Israa kembali dibawa ke rumah sakit, tetapi kali ini para dokter tidak bisa melakukan apapun. Dia meninggal dunia.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Pengunjuk rasa menuntut penegakan hukum perlindungan perempuan dari kekerasan rumah tangga.

    Pemerintah, yang sekarang dipojokkan terkait cara penangangan kasus ini, sejak saat itu mengatakan Israa mengalami luka parah karena dipukuli.

    Jaksa Agung Palestina Akram al-Khateeb pada konferensi pers hari Kamis mengatakan Israa sebagai korban kekerasan rumah tangga.

    Dia mengatakan Israa mengalami tekanan kejiwaan dan kekerasan fisik, di samping apa yang dikatakannya “sihir dan ilusi” oleh anggota keluarganya.

    Tiga kerabat laki-laki Israa dituduh melakukan penyerangan yang menyebabkan kematiannya.

    Para pegiat memandang kasus ini memperlihatkan kurangnya perlindungan hukum dasar bagi perempuan Palestina.

    Keluarga konservatif

    Israa berasal dari keluarga konservatif di mana terdapat aturan ketat terkait dengan cara perempuan dan pria muda berpacaran.

    Dia diyakini mengunggah postingan foto dirinya dan tunangannya di sebuah kafe di media sosial untuk teman-temannya. Isi akunnya sekarang telah dihapus.

    Beberapa hari sebelum kematiannya, sejumlah anggota keluarga menyatakan bahwa cara Israa menampilkan diri di depan umum dengan seorang pria sebagai tindakan tidak terhormat.

    Dia dianggap telah melukai dirinya sendiri.

    Israa kemudian meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji merias karena: “Tulang belakang saya patah dan saya dioperasi hari ini.”

    Polisi tidak melakukan tindakan lanjutan meskipun pejabat kesehatan mengakui adanya “tanda-tanda pelecehan”.

    Trending di Twitter

    Jenazah Israa dimakamkan beberapa jam setelah kematiannya.

    Kasusnya akan berakhir di sana, jika saja tidak diperhatikan kelompok Facebook Palestina Anda Kenal Dia?/Do You Know Him?

    Kelompok ini mengunggah rekaman yang diduga adalah teriakan Israa saat dipukuli saudara laki-laki, saudara ipar laki-laki dan ayahnya di rumah sakit.

    Rumah sakit menyangkal Israa dipukuli di tempat itu.

    Tetapi pernyataan kelompok tersebut terus menyebar dan terjadi peningkatan kekhawatiran terkait hal-hal yang dialami Israa.

    Tagar “Israa Ghrayeb”, “No honour in honour crimes” dan “We are all Israa Ghrayeb” trending di Twitter sejumlah negara Arab.

    Pengunjuk rasa pembela hak perempuan beraksi di luar kantor Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh.

    Mereka menuntut penegakan hukum yang melindungi perempuan dari kekerasan rumah tangga. Mereka menuduh para pejabat gagal melindungi Israa sebelum kematiannya dan hampir tidak menyelidiki kasusnya.

    Kerasukan roh jahat

    “(keluarganya) menyatakan dia kerasukan roh jahat,” kata Randa Siniora dari Pusat Bantuan Hukum dan Konseling Perempuan Palestina..

    Lewat sebuah wawancara kepada media, saudara ipar laki-lakinya memang mengatakan bahwa Israa kerasukan.

    Tes forensik lanjutan akhirnya kemudian diperintahkan untuk dilakukan.

    Ahli patologi mengatakan Israa meninggal karena kegagalan parah saluran pernafasan karena kerusakan paru-paru, akibat sejumlah cedera.

    Lewat konferensi pers, jaksa agung kemudian menyatakan kematiannya karena “penyiksaan dan pelecehan”.

    Saat dihubungi BBC, anggota keluarga dekat menolak berkomentar.

    Dua rumah sakit menyatakan telah memberi tahu polisi, tetapi pemerintah masih belum mengomentari terkait kurangnya tindakan yang diambil sebelum Israa meninggal.

    Peningkatan kekerasan

    Pusat Bantuan Hukum dan Konseling Perempuan Palestina mencatat 24 kasus tahun lalu di mana perempuan meninggal karena kekerasan atau pelecehan gender di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

    Kelompok HAM, Al-Haq selama beberapa tahun telah menekankan adanya “peningkatan yang mengkhawatirkan” terkait kekerasan terhadap perempuan.

    Para pegiat menyalahkan budaya memaafkan pria pelanggar hukum, yang didukung oleh hukum pidana tahun 1960-an.

    Peraturan ini memberikan celah yang digunakan pengadilan Palestina untuk mengampuni atau memberikan hukum ringan kepada pria pelaku kekerasan terhadap perempuan saat mereka mengatakan tindakan itu dilakukan demi kehormatan keluarga.

    Otorita Palestina (PA) pada tahun 2011 mengamandemen hukum itu untuk mengatasi “pembunuhan demi kehormatan”.

    Image caption Pembunuhan demi kehormatan keluarga?

    Tetapi laporan PBB tahun 2017 menyatakan kebanyakan hakim dalam sebagian besar kasus masih mengacu kepada pasal 99 dan 100 “yang penerapannya mengurangi hukuman pembunuhan, termasuk jika korban berasal dari keluarga yang sama dengan pelakunya”.

    “Mereka menderita karena kekerasan pendudukan Israel, tetapi juga karena sistem kekerasan yang berasal dari tradisi dan budaya, serta norma sosial patriarki,” tambah laporan itu.

    Hukum pidana tidak mewajibkan anggota keluarga yang kemungkinan menyaksikan kekerasan untuk memberikan informasi kepada polisi, kata Randa Siniora.

    Para pegiat menekankan bahwa PA adalah penandatangan konvensi internasional yang mewajibkan otorita untuk mendukung hak asasi manusia dan mencegah kekerasan berdasarkan jenis kelamin.

    Sekarang sedang dilakukan kampanye yang menuntut keadilan bagi Israa.


    Artikel yang berjudul “Kematian penata rias wajah Palestina yang mengangkat masalah kekerasan rumah tangga” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments