• Breaking News

    Insiden di New York dan Washington yang memicu perang tak kunjung usai di Afghanistan

    Tentara marinir Amerika di Herati, Afghanistan pada 2009Hak atas foto Getty Images Image caption Amerika Serikat melancarkan perang di Afghanistan sejak 2001 dan hingga sekarang perang itu masih berlangsung.

    President Donald Trump tiba-tiba saja menghentikan perundingan damai dengan Taliban ketika Washington dan kelompok Afghanistan tersebut sepertinya berada di tahap akhir untuk menyepakati perjanjian.

    Penghentikan perundingan memupus harapan mengakhiri perang yang dijalankan koalisi pimpinan Amerika di Afghanistan yang berlangsung sejak 2001, perang terlama yang dijalankan Amerika.

    Apa pemicu perang di Afghanistan dan mengapa hingga sekarang tak juga berakhir?

    Semuanya berawal pada 11 September 2001, ketika terjadi serangan di New York, Washington dan Pennsylvania, yang menewaskan hampir 3.000 orang. Osama Bin Laden dan kelompoknya, al Qaida, langsung dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab,

    Taliban, kelompok yang ketika itu berkuasa di Afghanistan, melindungi Bin Laden dan menolak menyerahkannya ke Amerika.

    Hanya sebulan setelah 11 September, Amerika resmi menggempur Afghanistan.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Osama bin Laden dan kelompoknya, al Qaida, dianggap bertanggung jawab atas serangan 11 September di AS.

    “Kami sebenarnya tak diminta menjalankan misi ini, namun kami akan merampungkannya,” kata George W Bush, presiden Amerika saat mengumumkan serangan udara pertama terhadap Afghanistan pada 7 Oktober 2001.

    Aksi militer Amerika, kata Presiden Bush, ditujukan untuk “menghancurkan pangkalan operasi teroris di Afghanistan dan untuk melumpuhkan kemampuan militer Taliban”.

    Sasaran-sasaran serangan antara lain adalah pangkalan militer Taliban dan kamp pelatihan kelompok al Qaida.

    Sejumlah negara bergabung dengan Amerika dan dengan cepat Taliban digulingkan dari kekuasaan.

    Meski tak lagi berkuasa, Taliban tak mudah ditumpas. Pengaruh kelompok ini tidak hilang dan mereka bertahan.

    Sejak itu, koalisi pimpinan Amerika kesulitan menjadikan Afghanistan sebagai negara yang stabil dan Taliban tetap menjadi gangguan keamanan dan stabilitas.

    Mengapa perang berlangsung begitu lama

    Ada banyak alasan, termasuk daya tahan Taliban, keterbatasan kemampuan militer Afghanistan, hingga keengganan sejumlah negara memperpanjang penempatan pasukan di negara tersebut.

    Selama perang dalam 18 tahun terakhir, kadang Taliban terdesak. Seperti ketika Presiden Barack Obama menambah pasukan Amerika menjadi 100.000 personel pada 2009.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Milisi Taliban dinilai berhasil melakukan konsolidasi setelah pasukan koalisi mengendurkan operasi di Afghanistan.

    Namun keunggulan pasukan Amerika dan pasukan koalisi tak bertahan lama, yang membuat Taliban selalu bisa melakukan konsolidasi.

    Dan ketika pasukan internasional ditarik, tanggung jawab keamanan diserahkan kepada militer Afghanistan. Biasanya militer Afghanistan kewalahan menghadapi Taliban.

    Situasi makin runyam karena pemerintahan sipil Afghanistan, yang dibentuk berdasarkan kesapakatan kesukukan, sering tidak kompak.

    Menurut wartawan BBC World Service, Dawood Azami, beberapa hal berikut membuat perang di Afghanistan sulit diakhiri:

    ketiadaan kejelasan politik sejak invasi AS strategi militer AS dianggap tak sepenuhnya efektif peningkatan aktivitas kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Afghanistan.

    Juga, ada peran negara tetangga, Pakistan, yang mendorong perang di Afghanistan tak mudah diakhiri.

    Akar Taliban ada di Pakistan dan di negara ini pula Taliban melakukan konsolidasi setelah digempur habis-habisan oleh Amerika.

    Tapi Pakistan membantah membantu atau melindungi Taliban.

    Apa yang membuat Taliban bisa bertahan?

    Hak atas foto Getty Images Image caption Amerika pernah menempatkan pasukan berkekuatan hingga 100.000 personel di Afghanistan.

    Sejumlah kajian menunjukkan Taliban memiliki dukungan keuangan yang kuat.

    Dalam beberapa tahun belakangan, Taliban mendapatkan uang hingga US$1,5 miliar atau sekitar Rp21 triliun per tahun, angka ini melonjak sangat signifikan jika dibandingkan satu dekade lalu.

    Penerimaan itu di antaranya berasal dari perdagangan obat-obatan terlarang. Afghanistan adalah penghasil opium terbesar di dunia dan sebagian besar tanaman opium tumbuh di daerah-daerah yang dikuasai Taliban.

    Taliban juga mendapatkan uang dengan mengutip pajak dari orang-orang yang melakukan perjalanan di wilayah mereka. Selain itu, mereka punya bisnis telekomunikasi, listrik dan mineral.

    Apakah ada dukungan keuangan dari negara lain? Beberapa negara, termasuk Pakistan dan Iran diduga memberi dukungan finansial, namun pemerintah kedua negara dengan tegas membantahnya.

    Meski demikian, warga di kawasan diyakini mengeluarkan sumbangan ke Taliban.


    Artikel yang berjudul “Insiden di New York dan Washington yang memicu perang tak kunjung usai di Afghanistan” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments