• Breaking News

    Unjuk rasa di Deiyai, Papua, berakhir ricuh, pendemo dan aparat keamanan menjadi korban

    MimikaHak atas foto Sevianto Pakiding/ANTARA FOTO Image caption Sejumlah prajurit TNI berjaga di Kompleks Gedung DPRD Mimika, Papua, Sabtu (24/08). Petugas gabungan Polri dan TNI masih melakukan pengamanan di sejumlah objek vital dan strategis di Kota Timika, Papua.

    Unjuk rasa memprotes dugaan rasialisme mahasiswa Papua di depan Kantor Bupati Deiyai, Provinsi Papua, Rabu (28/08) berubah menjadi kericuhan yang menyebabkan jatuh korban di pihak pengunjukrasa dan anggota TNI/Polri.

    Hingga Rabu (28/08) pukul 16.50 WIB, menurut TNI, ada setidaknya satu anggota TNI meninggal dan beberapa terluka akibat “terkena panah dan parang”, sementara seorang aktivis pro kemerdekaan Papua mengklaim “enam orang pengunjuk rasa meninggal dunia terkena tembakan”.

    Kepada BBC News Indonesia, juru bicara Kodam Cenderawasih membantah adanya korban meninggal dunia di pihak pengunjuk rasa, sementara Polri menyatakan belum bisa mengkorfirmasi klaim tersebut.

    Sementara, dalam akun Twitter resmi, Pusat Penerangan TNI menyebut laporan-laporan yang mengklaim enam orang pengunjukrasa di Deiyai, Papua, sebagai “informasi hoaks”.

    Informasi adanya kericuhan diawali laporan media setempat, Suara Papua.com, sekitar pukul 16.34 WIB, yang menyebut ada enam orang pengunjukrasa yang “dikabarkan tewas”, tanpa menyebutkan sumbernya.

    Hak atas foto BBC News Indonesia

    Dalam keterangan tertulisnya kepada BBC News Indonesia, Rabu, sekitar pukul 14.13 WIB, salah seorang pimpinan Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP, Markus Haluk, mengatakan “terjadi penembakan (oleh TNI-POLRI) yang membuat enam orang (pengunjukrasa) menjadi korban, dan meninggal di tempat.”

    Keterangan berbeda diberikan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Eko Daryanto, saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, melalui sambungan telepon, Rabu (28/08) sore.

    “Penembakan itu (terhadap pendemo) tidak ada, ini bukan kontak senjata. Kita jadi korban anarkis, aparat TNI-Polri jadi korban aksi anarkis dari demo,” kata Eko Daryanto.

    Menurutnya, “satu orang anggota kita (TNI) meninggal dunia, kena parang dan panah (oleh pengunjuk rasa).”

    Hak atas foto Gusti Tanati/ANTARA FOTO Image caption Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (ketiga kanan) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kedua kanan) berjalan seusai menggelar pertemuan tertutup di Mapolda Papua, Jayapura, Papua, Selasa (27/08).

    Eko Daryanto menjelaskan aparatnya mengamankan Kantor Bupati Deiyai dari apa yang disebutnya sebagai “tindakan anarkis” massa pengunjuk rasa.

    “Korban meninggal saat mengamankan kantor bupati,” ujarnya.

    “Massa anarkis, melepaskan panah (ke arah aparat TNI-Polri),” ungkapnya.

    ‘Kesulitan mengecek informasi korban meninggal’

    Secara terpisah, dalam keterangan tertulis, sekitar pukul 17.15 WIB, Rabu sore, juru bicara Polri, Dedy Prasetyo, mengatakan, pihaknya belum dapat mengkonfirmasi informasi adanya warga sipil meninggal dalam kericuhan di Deiyai.

    “Belum dapat dikonfirmasi dan klarifikasi kebenarannya,” ungkap Dedy Prasetyo.

    Dia hanya memastikan satu orang anggota TNI meninggal dunia dan lima anggota Polri terluka dalam kericuhan di depan Kantor Bupati Deiyai.

    Hak atas foto Toyiban/ANTARA FOTO Image caption Petugas INAFIS Mabes Polri bersama Polda Papua Barat melakukan olah tempat kejadian perkara pembakaran kantor DPRD Provinsi Papua Barat di Manokwari, Papua Barat, Selasa (27/08).

    Sementara, Markus Haluk mengklaim informasi tentang adanya enam orang pengunjuk rasa meninggal dunia didapatkannya dari keterangan “saksi” dari lokasi kejadian di depan Kantor Bupati Deiyai.

    Namun demikian dia mengaku belum mendapatkan secara lengkap jati diri enam orang yang disebutnya meninggal dalam kericuhan itu, kecuali satu orang yang ia katakan bernama Alpius Pigai, 20 tahun, asal Digibagata Debey.

    “Masyarakat mau mengecek siapa yang jadi korban, sulit, karena lokasi dijaga TNI-Polri,” katanya.

    Eko Daryanto membenarkan bahwa ada korban pengunjuk rasa yang terluka dan telah dilarikan ke rumah sakit, namun membantah ada yang meninggal dunia.

    Kronologi kejadian versi TNI-Polri

    Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Eko Daryanto mengatakan kericuhan diawali oleh aksi massa yang disebutnya “mau menyerang kantor bupati”.

    “Nah, anggota kita (TNI-Polri), mengamankan kantor bupati,” katanya.

    “Kita diserang, kita terkena aksi anarkis, dipanah, kena parang, senjata tajam, (anggota TNI-Polri) ada yang kena di punggung, di pantat, ada yang kena leher, ada pula yang di lengan.

    “Nah, korban yang meninggal kena di kepala, yaitu kena parang dan panah, saat mengamankan kantor bupati,” paparnya.

    Dia menyebut pelaku penyerangan adalah “dari massa pengunjuk rasa.”

    Hak atas foto Moch Asim/ANTARA FOTO Image caption Pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Gubernur Papua Lukas Enembe, Selasa (27/08) di Surabaya, membahas persoalan mahasiswa asal Papua dan untuk meredam perselisihan.

    Kepolisian, melalui pesan tertulis yang disampaikan juru bicara Polri, Dedy Prasetyo, mengatakan, awalnya unjuk rasa diikuti 150 yang berlangsung damai.

    “Namun siang hari turun massa sekitar 1.000 orang dengan bersenjatakan panah dan parang, melakukan serangan secara membabi buta ke aparat keamanan,” ungkap Dedy dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia.

    Kronologi versi Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat

    Salah-seorang pimpinan Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP, Markus Haluk, mengatakan aksi di depan Kantor Bupati Deiyai bertujuan memprotes apa yang disebutnya sebagai dugaan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

    “Mereka mau menyampaikan aspirasi itu kepada bupati. Menurut masyarakat, terungkap kata ‘monyet’ dari aparat yang ada di situ. Jadi, situasi itu menganggu emosi mereka, dan membuat mereka emosi,” ungkap Markus Haluk kepada BBC News Indonesia.

    Laporan yang diterimanya juga menyebutkan bahwa massa “dihalangi” untuk bertemu bupati.

    Di tengah situasi itulah, Markus mengklaim, aparat keamanan melepaskan tembakan gas air mata.

    Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP Image caption Unjuk rasa mahasiswa Papua di sekitar Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/08), memprotes tindakan kekerasan fisik dan verbal terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

    “Lalu terdengar ada tembakan,” ungkapnya. Dari keterangan sumber yang disebutnya berada di lokasi kejadian, “penembakan itu membuat enam orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka”.

    Dia lebih lanjut mengatakan, pengunjuk rasa dalam rangka “membela diri” kemudian “melakukan perlawanan kepada pasukan TNI-Polri yang membuat mereka (TNI-Polri) terluka dan korban (meninggal)”.

    Situasi Kabupaten Deiyai kondusif’

    Sampai sekitar pukul 17.00 WIB, menurut Kapendam XVII/Cenderawasih, Eko Daryanto, situasi di depan Kantor Bupati Deiyai, Papua, “sudah kondusif”.

    “Massa pengunjuk rasa sudah bubar, sudah kondusif,” kata Eko.

    Sementara, juru bicara Polri, Dedy Prasetyo, mengatakan, situasi kota Deiyai sudah kondusif yang ditandai “masyarakat sudah kembali ke rumahnya”.

    “Aparat keamanan terus mengkendalikan situasi keamanan,” katanya dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia.


    Artikel yang berjudul “Unjuk rasa di Deiyai, Papua, berakhir ricuh, pendemo dan aparat keamanan menjadi korban” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments