• Breaking News

    Rusia: Tiga anak perempuan membunuh ayah mereka karena KDRT

    Khachaturyan Bersaudari, 26 Juni 2019Hak atas foto Getty Images Image caption Pada saat pembunuhan terhadap ayah mereka, Angelina (kiri) berumur 18 tahun, Maria (tengah) 17 tahun, dan Krestina (kanan) berumur 19 tahun.

    Tiga saudari kandung menikam dan menghantam ayah mereka yang sedang tidur hingga meninggal dunia di apartemen mereka di Moskow, pada Juli 2018.

    Penyelidik memastikan bahwa sang ayah selama bertahun-tahun menyiksa ketiga remaja putri itu secara fisik maupun psikologis.

    Ketiganya didakwa melakukan pembunuhan, dan kini menjadi perdebatan besar di Rusia. Lebih dari 300.000 tanda tangan dikumpulkan dalam sebuah petisi guna meminta agar mereka dibebaskan.

    Apa yang terjadi?

    27 Juli 2018 malam, Mikhail Khachaturyan memanggil ketiga putrinya, yakni Krestina, Angelina, dan Maria secara bergantian ke kamarnya. Pria berusia 57 tahun itu memarahi mereka karena tidak membersihkan apartemen dengan benar. Ia juga menyemprotkan gas merica ke wajah mereka.

    Tak lama sesudahnya, ketika Mikhail tidur, ketiga remaja putri itu menyerangnya dengan pisau, martil, dan semprotan merica. Sang ayah meninggal dunia akibat luka di kepala, leher, dan dada. Ia ditemukan tak bernyawa dengan 30 luka tusuk.

    Ketiga remaja ini kemudian memanggil polisi dan mereka ditangkap di lokasi.

    Penyelidikan kemudian menemukan adanya sejarah panjang kekerasan dalam keluarga itu. Mikhail secara rutin memukuli dan menyiksa anak-anaknya dalam tiga tahun terakhir. Ia juga memenjara mereka dan menyiksa mereka secara seksual.

    Bukti mengenai perihal ini dikutip dalam surat dakwaan.

    Kekerasan domestik

    Kasus ini segera menjadi bahan kontroversi di Rusia. Pegiat hak asasi manusia berpendapat ketiga remaja putri ini bukan penjahat, melainkan korban. Terutama karena tak ada cara lain bagi mereka untuk minta tolong dan melindungi diri dari ayah mereka yang kejam.

    Namun di Rusia tak ada hukum yang melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

    Hak atas foto Getty Images Image caption Unjuk rasa solidaritas di St. Petersburg, dengan spanduk berbunyi: “Kebebasan untuk Khachaturyan Bersaudari”.

    Melalui perubahan hukum tahun 2017, seorang individu yang memukul anggota keluarganya – tapi tak sampai membuat korban masuk rumah sakit – akan kena denda atau kurungan selama dua minggu.

    Polisi di Rusia umumnya memperlakukan KDRT sebagai “masalah keluarga” dan hampir tak menyediakan bantuan sama sekali soal ini.

    Ibu dari tiga remaja putri ini juga mengalami pemukulan oleh Mikhail, dan pernah minta tolong ke polisi beberapa tahun sebelumnya.

    Para tetangga juga pernah mengadu ke polisi karena takut pada Mikhail, tapi tak ada tanda bahwa polisi melakukan tindakan apa-apa.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Ibu dari ketiga remaja putri ini, Aurelia Dunduk, mengatakan Mikhail mengusirnya dari apartemen mereka pada tahun 2015.

    Saat pembunuhan terjadi, ibu ketiga remaja itu tak tinggal bersama mereka. Mikhail melarang ketiganya untuk mengontak ibu mereka.

    Menurut penilaian psikiatris, ketiga perempuan muda ini hidup dalam isolasi dan mengalami post-traumatic stress (PTSD).

    Apa yang terjadi selama penyelidikan?

    Kasus ketiga remaja ini berjalan lambat. Mereka tidak lagi dalam tahanan, tapi dikenai rangkaian batasan: mereka tak boleh bicara satu sama lain dan tak boleh bicara kepada wartawan.

    Kejaksaan berkeras bahwa pembunuhan ini direncanakan. Ketika sang ayah tidur, ketiga remaja ini merancang aksi mereka, mengambil pisau sejak paginya. Menurut jaksa, motif mereka adalah balas dendam.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Angelina Khachaturyan menghadiri sidang pada bulan Juni 2019.

    Jika terbukti bersalah, ketiganya bisa dihukum hingga 20 tahun penjara. Tuduhan kepada mereka: Angelina memegang martil, Maria membawa pisau, dan Krestina dengan semprotan merica.

    Namun pihak pengacara mengatakan pembunuhan itu adalah tindakan bela diri.

    Hukum kriminal Rusia membolehkan bela diri tidak hanya dalam kasus serangan langsung, tetapi juga dalam kasus “kejahatan berkepanjangan” seperti misalnya penyanderaan yang diiringi penyiksaan.

    Pengacara berkeras bahwa ketiganya adalah korban dari “kejahatan berkepanjangan” dan harus segera dibebaskan.

    Mereka berharap kasus ini dihentikan karena penyelidikan menemukan bukti kekerasan yang dilakukan Mikhail terhadap anak-anaknya sudah terjadi sejak tahun 2014.

    Pegiat hak asasi manusia dan berbagai pihak di Rusia kini ingin ada perubahan hukum, termasuk mewajibkan pemerintah menyediakan penampungan, perintah penahanan dan kursus untuk menangani perilaku agresif.

    Seberapa luas penyebaran kekerasan domestik?

    Tak ada data berapa banyak perempuan yang mengalami kekerasan domestik di Rusia. Yang ada hanya perkiraan, dan pegiat hak asasi menyatakan itu bisa terjadi pada satu dari empat keluarga.

    Beberapa kasus menjadi pemberitaan, termasuk kasus Margarita Gracheva, yang dipotong tangannya oleh suaminya lantaran cemburu.

    Image caption Margarita Gracheva bicara banyak tentang kekerasan yang terjadi padanya sesudah suaminya memotong tangannya.

    Beberapa ahli menyatakan sekitar 80% perempuan di penjara Rusia karena kasus pembunuhan terkait kekerasan domestik atau pembelaan diri.

    Namun ada tekanan balik terhadap tiga remaja ini yang berasal dari kalangan konservatif Rusia.

    Sebuah kelompok yang menamakan diri Men’s State mengutip “patriarki” dan “nasionalisme” sebagai nilai utama mereka, dan punya 150.000 anggota di media sosial.

    Mereka berkampanye dengan tema “Pembunuh harus dipenjara” dan berkeras tiga remaja putri ini tidak boleh dibebaskan.

    Selain petisi di change.org yang meminta agar kasus dihentikan, ada rangkaian pembacaan puisi, unjuk rasa dan pertunjukan teater.


    Artikel yang berjudul “Rusia: Tiga anak perempuan membunuh ayah mereka karena KDRT” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments