• Breaking News

    Petani Madagaskar berusaha selamatkan teripang, makanan lezat yang mahal harganya

    madagaskar, teripangHak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Di sebagian kawasan di dunia, teripang adalah makanan lezat yang mahal harganya karena manfaat kesehatannya dipandang tinggi.

    Di Tampolove, sebuah desa kecil berangin dengan gubuk dari lumpur dan jalan berpasir yang terbentang di antara pantai dan hutan di Madagaskar barat daya, binatang ini telah membangkitkan ekonomi setempat dan lingkungan.

    Desa itu adalah rumah bagi peternakan teripang lokal pertama Madagaskar, yang telah mengubah kehidupan penduduk yang sebelumnya hanya berpenghasilan satu dolar atau Rp14.000 per hari, meski pada saat yang sama semakin merugikan spesies laut.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Teripang berasal dari keluarga echinoderm, bersama-sama dengan bintang laut dan bulu babi. Bentuk dan ukurannya berbeda-beda.

    Mereka menghabiskan waktu membenamkan diri dalam lumpur dan muncul pada malam hari untuk mencari partikel untuk dimakan di lapisan sedimen – aktivitas yang memungkinkan terjadinya proses pernyaringan penting yang menguntungkan ekosistem yang lebih luas.

    Tetapi dalam beberapa dekade terakhir, perburuan ikan yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan di Asia membuat cadangan teripang dunia menurun.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Budi daya teripang di Tampolove adalah bagian dari skema untuk melindungi lingkungan dan memperbaiki kehidupan masyarakat di kawasan yang tak diperhatikan di Madagaskar.

    Pada tahun 2004, masyarakat setempat dengan dukungan LSM Inggris, Blue Ventures, bersama-sama memutuskan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi anjloknya cadangan teripang dan gurita di pantai.

    Mereka membuat perkumpulan, terdiri dari wakil sejumlah desa di sepanjang pantai, yang bertanggung jawab untuk mengelola kegiatan nelayan dan lingkungan. Mereka menamakan wilayah yang dilindungi sebagai Velondriake dari bahasa Vezo yang berarti “hidup dengan laut”.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Teripang muda dibuat agar dapat hidup menyesuaikan diri dengan suhu air di Bay of Assassins, sebelum dilepaskan ke kandang. Mereka akan dipanen sebagai teripang dewasa dalam sembilan bulan.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Penduduk desa menentukan sejumlah “kawasan dilarang memancing” yang tidak boleh diakses aktivitas pemancingan dan membuat sejumlah tempat hidup sementara bagi gurita.

    Mereka melarang pengggunaan jaring halus, mengambil ikan dengan menggunakan dinamit dan sianida, dan berhenti menebang bakau di daerah dilindungi.

    Mereka juga menyatakan larangan penangkapan spesies tertentu seperti penyu dan lumba-lumba, dan membuat larangan musiman sejumlah spesies lainnya.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Petain Xavier Faralahi, 22 tahun, bekerja sebagai penjaga lapangan teripang di desa Tampolove.

    Dia bekerja selama 12 jam, memastikan teripang berharga tidak dicuri dari kandangnya. Faralahi bangga akan perannya sebagai penjaga 6.000 teripang.

    “Saya mencintai pekerjaan saya,” katanya. “Saya mendapatkan penghasilan dan pada saat yang sama membantu masyarakat saya. Pencurian sudah sangat menurun”.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Panen selalu dilakukan pada malam hari, ketika binatang tersebut muncul dari sarangnya di lumpur.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Hanya teripang seberat di atas 400 gram yang akan dipanen. Sisanya dikembalikan.

    Hak atas foto TOMMY TRENCHARD

    Salah satu orang yang memanen adalah Vinike Odette, 27 tahun, mantan pemburu gurita yang terlibat dalam perternakan teripang (atau zanga dalam bahasa setempat) sejak tahun 2010, ketika proyek ini diluncurkan.

    “Pekerjaan ini lebih mudah dari pada memancing atau menangkap gurita, dan saya sangat puas dengan harganya,” kata Odette.

    “Kita semua mampu membeli lebih banyak hal. Saya membeli banyak barang untuk rumah saya – kursi, piring, alat masak, banyak hal.”

    Semua foto oleh Tommy Trenchard.


    Artikel yang berjudul “Petani Madagaskar berusaha selamatkan teripang, makanan lezat yang mahal harganya” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments