• Breaking News

    Kota Sorong, Papua Barat, ‘sempat lumpuh’: Pendemo ancam gelar aksi susulan, Polri-TNI tambah pasukan

    SorongHak atas foto HASYIM KELIREY/Getty Image caption Beberapa orang dan anggota polisi berjalan di depan bangunan rumah yang dibakar oleh sekelompok orang di kota Sorong, Papua Barat, Selasa (20/08).

    Sampai Selasa (20/08) malam, suasana kota Sorong, Provinsi Papua Barat, dilaporkan masih “mencekam” dan sempat “lumpuh” setelah terjadi unjuk rasa susulan oleh sekelompok orang yang berakhir ricuh.

    “Secara umum masih mencekam, masih sepi. Masih ada pemalangan jalan-jalan besar, seperti Jalan Sudirman dan Jalan Ahmad Yani,” kata wartawan di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, Olha Irianti kepada BBC News Indonesia, Selasa (20/08) malam.

    Dia juga menyaksikan “masih ada pembakaran ban bekas oleh sekelompok orang sampai sekitar pukul 19.30 WIT (20.30 WIB) dan masih ada massa yang berkumpul di titik-titik tertentu.”

    Selain itu, secara umum, kota Sorong dilaporkan “masih lumpuh”, karena “sebagian besar masyarakat kota itu menghentikan aktivitasnya”, laporannya.

    Hak atas foto OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO Image caption Prajurit Kostrad dari Yon Armed 13 saat tiba di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (20/08). Sebanyak 325 personel Kostrad didatangkan untuk membantu kepolisian dalam mengamankan wilayah Sorong dan Manokwari.

    “Toko-toko tutup, pendidikan diliburkan, PNS juga diliburkan. Demikian pula, rencananya besok akan diliburkan, karena masih ada seruan untuk aksi lanjutan,” kata Olhi.

    Di sejumlah ruas jalan, “ada warga yang memasang penghalang” untuk mengamankan lingkungannya dari kemungkinan adanya penyusup.

    ‘Wali kota Sorong dan jajarannya dilempari batu’

    Unjuk rasa yang semula berjalan damai pada Selasa pagi, berubah menjadi kericuhan ketika aparat kepolisian berusaha “mencegat massa agar tidak kemana-mana, utamanya tidak ke arah obyek vital”, kata Kapolres Kapolres Sorong Kota AKBP Mario Christy P Siregar kepada wartawan, Selasa.

    Menurutnya, kericuhan itu juga diawali aksi “lempar batu-batu kecil dan botol” oleh massa pengunjuk rasa ke arah wali kota dan jajarannya. “Sekarang sudah kondusif,” ujar Mario.

    Hak atas foto OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO Image caption Bangkai sepeda motor usai dibakar massa di parkiran Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, Papua Barat, Senin (19/08).

    Wartawan di Sorong, Olha Irianti juga menyaksikan, Wali Kota Sorong Lambert Jitmau sempat menemui massa, namun ditolak oleh sebagian pendemo.

    “Mereka tidak puas dengan keterangan wali kota, dan sempat melemparinya,” ungkap Olha. “Jadi, pertemuan batal dilakukan.”

    Dilaporkan pula sempat terjadi kericuhan di depan kantor wali kota ketika aparat kepolisian membubarkan demonstrasi dengan tembakan gas air mata dan tembakan peringatan.

    Sebagian massa pengunjuk rasa sempat masuk ke kantor catatan sipil yang bersebelahan dengan kantor wali kota dan “sempat membakar sebagian dokumentasi”.

    Mengapa ada di Sorong ada unjuk rasa susulan?

    Massa pengunjuk rasa sejak Selasa pagi menggelar pawai menuju kantor wali kota Sorong. Ini adalah unjuk rasa lanjutan setelah mereka menggelar Senin (19/08).

    Alfo Reba, mahasiswi STIKES Sorong, yang juga terlibat unjuk rasa, mengatakan mereka kembali menggelar unjuk rasa karena “sampai sekarang kami belum mendapat jawaban konkret dari Presiden Jokowi sendiri tentang masalah ini (tuduhan adanya rasisme dan kekerasan atas mahasiswa Papua di Jawa),” ujarnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Callistasia Wijaya, Selasa.

    Hak atas foto OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO Image caption Petugas Kepolisian bersiap mengamankan aksi demonstrasi massa di halaman Mapolres Kota Sorong, Papua Barat, Senin (19/08).

    Dia mengklaim, unjuk rasa di Sorong telah melumpuhkan kota itu. “Hampir keseluruhan kota Sorong dilumpuhklan oleh blokade jalan,” ujar Alfo.

    Alfo mengatakan aksi akan dilanjutkan pada Rabu (21/08) dengan tetap menuntut agar pemerintah melakukan tindakan tegas terhadap anggota TNI/Polri, yang disebutnya “mengintimidasi dan mendiskriminasi mahasiswa Papua”.

    Ditanya tentang kericuhan dan aksi pengrusakan dalam unjuk rasa di Sorong pada Senin dan berlanjut pada Selasa, Alfo mengatakan hal itu terjadi karena “keadaan yang tidak terkontrol.”

    ‘Lebih dari 250 napi di Lapas Sorong kabur’

    Dalam aksi pada Senin, sejumlah orang melakukan pengrusakan melalui lemparan batu ke fasilitas publik di bandara Sorong dan pembakaran kendaraan. Meskipun demikian dilaporkan jadwal penerbangan di bandara sudah normal kembali, kata Kapolres Kapolres Sorong Kota AKBP Mario Christy P Siregar.

    Di hari yang sama, ada kericuhan di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kota Sorong, Papua Barat, yang disebut sebagai “rangkaian kejadian situasi keamanan di Papua Barat berimbas pada Lapas Sorong,” kata Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Ade Kusmanto.

    Hak atas foto OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO Image caption Pecahan kaca di lobby Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, Papua Barat, Senin (19/08), usai diserang massa.

    “Telah terjadi pembakaran dan penjebolan tembok lapas sehingga terjadi pelarian (napi),” kata Ade.

    Lapas Sorong disebutkan berisi 547 narapidana, dan usai kerusuhan, napi yang tinggal ada 289 orang dan yang kabur ada 258 orang, demikian keterangan resmi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM.

    “Satu petugas lapas terluka oleh napi karena menghalangi napi yang memaksa ke luar lapas,” kata Ade.

    ‘Tambahan pasukan ke Sorong dan Manokwari’

    Di Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, situasi Papua dan Papua Barat secara umum “sudah kondusif”.

    Hak atas foto OLHA MULALINDA/ANTARA FOTO Image caption Prajurit TNI AD berjaga di kawasan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (20/08). Penerbangan di Bandara DEO Pasca kerusuhan, Senin (19/08) kembali normal dan masih dijaga ketat aparat TNI.

    “Saat ini (Selasa) di Jayapura dan Manokwari aktivitas masyarakat juga berjalan dengan baik,” jelas Dedi kepada wartawan.

    Dedi mengakui bahwa masih ada unjuk rasa di kota Sorong, yang diikuti “sekitar 500 orang”.

    Dedi mengatakan, ada penambahan personel polisi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat. Hal itu guna menjamin situasi di kawasan tersebut berjalan dengan aman dan tertib.

    “Ada empat Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari Polda Sultra, Polda Sulut dan Polda Maluku, ke Manokwari dan dua SSK ke Sorong,” jelasnya.


    Artikel yang berjudul “Kota Sorong, Papua Barat, ‘sempat lumpuh’: Pendemo ancam gelar aksi susulan, Polri-TNI tambah pasukan” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments