• Breaking News

    Harga tersembunyi pakaian murah: Eksploitasi buruh dan biaya lingkungan produksi tekstil

    A fashion blogger holding up a t-shirtHak atas foto Getty Images

    Penduduk Inggris sangat gemar berbelanja dengan angka belanja pakaian lima kali lipat daripada yang mereka lakukan pada dekade 1980-an.

    Dahulu belanja pakaian adalah kebiasaan sesudah gajian, kini menjadi tradisi akhir pekan, bahkan lebih sering lagi.

    Di toko-toko tersedia baju seharga £10, sekitar Rp172.00, dan bahkan bikini dijual dengan harga £1, sekitar Rp17.200.

    Bagaimana hal ini mungkin dilakukan? Apa sesungguhnya biaya-biaya yang tersembunyi di balik harga-harga murah itu?

    Sebuah investigasi dari BBC Radio 4 melacak hal ini dari Spanyol hingga ke Ethiopia.

    Bagaimana ini dilakukan?

    Tekanan pada berbagai merk untuk menyediakan pakaian dengan murah dan memberi keuntungan sebesar-besarnya kepada penanam modal telah membuat mereka mencari mati-matian sumber-sumber yang murah di seluruh dunia.

    Para pengkritik menyebut fenomena ini sebagai “mengejar jarum”.

    Hak atas foto NurPhoto Image caption In April, on the sixth anniversary of the Rana Plaza collapse disaster, activists campaigned for safe workplaces for garments workers in Dhaka, Bangladesh

    Cerita sedih terjadi pada tahun 2014 ketika 1.138 pekerja pabrik busana tewas ketika gedung di komplek pabrik Rana Plaza di Dhaka Bangladesh runtuh.

    Sesudah itu muncul tekanan besar untuk meningkatkan syarat dan kondisi pekerja, dan ini cukup berhasil. Beberapa peritel besar seperti H&M dan Converse mulai mempublikasikan daftar pemasok dan subkontraktor mereka ketika diminta untuk lebih transparan.

    Eksploitasi buruh masih terjadi

    Namun masih banyak konsekuensi tak terlihat dari tren terbaru ini. Karena peningkatan upah minimum di Bangladesh, perusahaan mencari negara lain demi menekan biaya.

    Di Ethiopia, upah minimum sepertiga Bangladesh, dengan rata-rata £5,75, sekitar Rp100.000 seminggu. Seorang pekerja di Addis Ababa – yang minta dirahasiakan namanya – menceritakan kondisi kerja yang tidak layak – seperti misalnya toilet yang sangat jorok dan banyaknya bentakan.

    Keadaan lain misalnya pembayaran lembur yang ditunda-tunda serta diperiksanya perut perempuan untuk memastikan ia tidak hamil ketika mereka melamar pekerjaan.

    Hal ini sudah dilaporkan oleh Workers Rights Consortium, tetapi belum ada perbaikan berbulan-bulan sejak laporan itu terbit. Demi menghadapi persaingan, pemerintah Ethiopia seakan menyatakan keunggulan negara mereka adalah upah murah.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Women making clothes in a textile factory in Addis Ababa, Ethiopia

    Penelope Kyritsis dari Workers Rights Consortium mengatakan industri busana tidak bisa menggunakan alasan bahwa ini sudah lebih baik daripada penduduk tidak punya pekerjaan sama sekali.

    Biaya lingkungan produksi tekstil

    Produksi tekstil sering dianggap menyumbang lebih besar terhadap perubahan iklim dibandingkan dengan penerbangan dan pelayaran.

    Di setiap tahap perjalanan pakaian, selalu ada dampak lingkungannya, mulai dari mencari sumber, produksi, transportasi, penjualan, pemakaian dan pembuangan.

    Komite Audit Lingkungan yang dibentuk oleh parlemen Inggris belum lama ini mengeluarkan laporan bahwa sepotong kemeja dan celana jin bisa menghabiskan 20.000 liter air untuk keperluan produksinya.

    Laporan ini menyimpulkan, “kita ini sama saja seperti sedang menghabiskan cadangan air bersih di Asia Tengah”.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Denim threads are dipped into indigo baths in a rope dying machine at a jeans factory

    Dalam soal bahan, masalah juga ada. Bahan katun dihasilkan dari kapas, tumbuhan yang sangat butuh air. Sedangkan polyester dibuat oleh plastik yang punya jejak karbon lebih besar.

    Serat plastik mikro yang dihasilkan dari pakaian terus menjadi masalah. Sekali isi mesin cuci, ratusan ribu serat terlepas dari situ.

    Selain itu, jutaan ton pakaian tak terpakai di Inggris dan 20%-nya dibuang.

    Siapa yang bertanggungjawab terhadap hal ini?

    Yang dilakukan pemerintah

    Komite Audit Lingkungan Parlemen Inggris telah membuat 18 rekomendasi, mulai dari menerapkan pajak untuk mendanai pusat daur ulang hingga memperkenalkan pelajaran menjahit di sekolah. Namun tak ada rekomendasi itu yang dijalankan.

    Para pengkritik menyatakan jika serius dengan keberlanjutan di industri busana, maka kebijakan harus dirancang untuk membujuk orang mengurangi belanja. Mungkin dibutuhkan aksi lebih drastis misalnya pajak lingkungan untuk pakaian.

    Namun dengan posisi bisnis eceran yang sedang kesulitan dan pentingnya konsumen berbelanja untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, ide ini akan sulit mendapat dukungan.

    Apa yang dilakukan bisnis?

    Hak atas foto LightRocket / Getty Images Image caption Zara has pledged to switch to 100% sustainable fabrics by 2025

    Sebuah merek busana asal Spanyol, Zara, adalah contoh yang mulai melakukan perubahan. Ini diawali dengan membawa pakaian-pakaian yang diperagakan ke toko mereka dalam tiga minggu.

    Mereka juga bertekad untuk menggunakan 100% bahan yang berkelanjutan (sustainable) pada tahun 2025.

    Beberapa perusahaan lain di Inggris seperti H&M dan M&S juga mulai memperbaiki sumber-sumber dan proses produksi pakaian mereka.

    Apakah ini merupakan upaya perusahaan-perusahaan itu mencuci nama saja? Menurut Pablo Isla dari Zara tidak demikian. Menurutnya, langkah ini dilakukan sebagai tanggapan terhadap keinginan konsumen.

    Konsumen

    Dengan kesadaran lebih tinggi terhadap dampak lingkungan beberapa desainer di London College of Fashion menyatakan akan melakukan mogok membali pakaian baru.

    Aksi ini menjadi semakin populer di Inggris, selain kegiatan memperbaiki dan menambal busana yang rusak.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Livia Firth established consultancy firm Eco-Age in 2009 to help fashion companies make their supply chains sustainable

    Media sosial juga mulai digunakan untuk berkampanye hal serupa.

    Aktivis Livia Firth menggunakan kesempatan tampil di karpet merah dan memperkenalkan bahan yang berkelanjutan, termasuk tas dari bahan kulit ikan.

    Ia juga berharap para influencers di media sosial – seperti misalnya Kim Kardashian – mulai mengkampanyekan industri pakaian yang berkelanjutan atau sustainable fashion.

    Livia juga menyatakan hubungan kita dengan pakaian mirip dengan kecanduan.

    Ini masuk akal mengingat pada dekade mendatang, permintaan kaos diperkirakan akan mencapai 500 miliar unit.


    Artikel yang berjudul “Harga tersembunyi pakaian murah: Eksploitasi buruh dan biaya lingkungan produksi tekstil” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments