• Breaking News

    Ebola: Serangan terhadap pekerja medis hambat penangkalan wabah di Kongo

    Pekerja medis membawa bayi yang diduga terinfeksi Ebola.Hak atas foto Getty Images Image caption Sekitar 1.800 orang meninggal dunia sejak wabah Ebola dinyatakan terjadi di Republik Demokratik Kongo 1 Agustus 2018 lalu.

    “Orang-orang beranggapan Ebola tidak ada,” kata Dr. Pascal Vahwere, yang bekerja melawan penyakit ini.

    “Tim saya yang bekerja melawan Ebola diserang orang-orang karena anggapan itu.”

    Ini terjadi ketika Dr. Vahwere dan timya berada di desa terpencil di provinsi Kivu Utara di Republik Demokratik Kongo. Sekelompok orang yang marah mengelilingi mereka.

    “Tiba-tiba mereka berkerumun membawa senjata api dan parang. Kami tak tahu kenapa mereka menyerang. Kami ketakutan, lalu bicara kepada pemimpin setempat agar menenangkan orang-orang itu.”

    Bagi para pekerja kesehatan yang ditugaskan ke desa yang terinfeksi Ebola, mereka menghadapi risiko tinggi.

    Tahun ini saja, tujuh orang pekerja kesehatan tewas dalam rangkaian serangan terhadap mereka ketika berupaya mengatasi Ebola.

    Hak atas foto MSF Image caption Orang bersenjata menyerang pusat perawatan Ebola di Butembo, di kawasan timur Kongo, menewaskan seorang polisi dan melukai seorang pekerja medis.

    Desas desus

    Teori konspirasi dan kemarahan terhadap kurangnya respon menyalakan kebencian di antara penduduk yang rentan terhadap epidemi maut ini.

    Hak atas foto Getty Images Image caption At least seven health workers have been killed this year in DRC

    “Informasi palsu tersebar sehingga orang percaya Ebola adalah upaya politisi untuk mencari uang,” kata Dr. Vahwere yang bekerja untuk komite penyelamatan internasional di kota Goma di Kongo bagian timur.

    “Beberapa bahkan berkata, perawatan itulah yang sesungguhnya menyebabkan kematian,” tambahnya.

    Serangan

    Desas-desus semacam ini menyebabkan peningkatan serangan terhadap para pekerja kesehatan.

    “Dari 1 Januari hingga 24 Juli, ada 189 serangan terhadap fasilitas dan pekerja kesehatan. Menurut catatan WHO serangan-serangan ini menyebabkan 7 orang meninggal dan 58 luka-luka di Kongo,” kata Sakuya Oka, Manajer Komunikasi WHO kepada BBC.

    Hak atas foto Institute of Tropical Medicine Image caption Richard Mouzoko (kanan) terbunuh dalam serangan mematikan di Butembo University Hospital.

    Termasuk di antara yang meninggal dalam serangan adalah ahli penyakit menular dari WHO, Richard Mouzoko. Ia terbunuh dalam serangan di Butembo University Hospital tanggal 19 April.

    Bulan Mei, penduduk desa di kawasan Timur Kongo membunuh seorang pekerja kesehatan dan menjarah fasilitas perawatan.

    Tanggal 15 Juli, dua pekerja kesehatan yang sedang melakukan kampanye pencegahan Ebola dibunuh di rumah mereka di Provinsi Kivu Utara.

    Menyebar

    Frekuensi serangan maut ini memperlambat respon terhadap wabah Ebola.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Pemerintah Kongo mengerahkan tentara dan polisi bersenjata untuk melindungi pekerja kesehatan yang sedang berjuang melawan wabah Ebola.

    Akibatnya kematian akibat wabah ini meningkat. Butuh waktu 224 hari bagi Ebola untuk mencapai jumlah kematian 1.000 orang, tapi untuk mencapai angka 2.000, waktu yang diperlukan adalah 71 hari.

    Ebola tersebar melalui cairan orang yang terinfeksi. Benda yang terkena cairan itu – seperti selimut atau pakaian – bisa ikut menyebarkan.

    Belum ada obat untuk Ebola, tapi perawatan dini untuk gejala tertentu dan terapi dengan cairan dan anti virus bisa memperbesar kemungkinan selamat.

    Vaksinasi

    Baru-baru ini, ada vaksinasi yang dibuat untuk mencegah penyebaran Ebola di Kongo.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Vaksinasi tak bisa dijalankan dengan lancar karena banyaknya serangan terhadap tim medis.

    Sebanyak 170.000 orang divaksinasi. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan orang yang terinfeksi Ebola.

    Namun serangan-serangan ini membuat upaya vaksinasi terhenti, akibatnya wabah menyebar luas lagi.

    Ketidakpercayaan dan kelompok militan

    Wabah Ebola terjadi di wilayah yang menjadi pusat puluhan kelompok pemberontak. Beberapa kelompok ini dituding pemerintah melakukan serangan terhadap tim medis yang sedang berjuang melawan Ebola. Seperti misalnya kelompok milisi Mai-Mai di Kivu Utara.

    “Kami mengirim tim untuk menyetop Ebola. Namun setiap pihak harus menghentikan serangan mereka, atau sulit sekali bagi kita mengakhiri wabah ini,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam cuitannya tanggal 10 Mei sesudah terjadi serangan terhadap pekerja medis.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Karena banyaknya serangan, tim medis jadi terlalu takut menggunakan pakaian pelindung seperti ini karena keberadaan mereka jadi mencolok.

    Kelompok milisi lain Allied Defence Forces (pemberontak Uganda yang beroperasi di Kongo) juga dituduh menyebarkan gangguan terhadap tim medis.

    Dalam satu kejadian di bulan Mei, anggota keluarga menyerang pekerja medis yang sedang mengawasi pemakaman keluarga mereka.

    “Sekarang tantangannnya berlapis. Kelompok bersenjata yang sudah lama di sana, dan sikap masyarakat yang bermusuhan. Serangan berubah, tadinya mengincar fasilitas kesehatan, kini menyerang tim medis. Tim kami harus mengambil keputusan yang bisa berubah setiap menit, kemana dan kapan kami harus berangkat agar tetap aman ketika menjalankan tugas,” kata Amy Daffe, Wakil Direktur Mercy Corps di Kongo.

    Perlindungan militer

    Menurut Amy Daffe, dampak langsung serangan-serangan ini adalah peningkatan infeksi Ebola.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Tentara bersenjata dikerahkan untuk menjaga pusat perawatan Ebola, seperti di fasilitas di Butembo ini.

    Pemerintah kemudian menyediakan pengawalan pasukan bersenjata kepada tim medis di pusat-pusat kesehatan.

    “Ini tidak baik,” kata Dr. Vahwere. “Kita perlu dipercaya oleh masyarakat. Kini orang mulai melihat bahwa wabah Ebola itu nyata.”

    Campak

    Seorang perawat yang pernah menjadi bagian tim tanggap darurat Medecins Sans Frontier (MSF) Kate White menjelaskan kepada BBC soal kecurigaan ini.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Sebelum masuk kota Goma, orang-orang diperiksa dulu kesehatannya dan diminta mencuci tangan.

    “Ketidakpercayaan berasal dari konflik selama 20 tahun di bagian timur Kongo. Pelayanan kesehatan di sana sudah lama berantakan dan masyarakat terlupakan selama ini,” kata Kate.

    “Mereka curiga kenapa Ebola dapat perhatian besar sementara kolera, campak dan malaria juga menyebabkan kematian di sana dan tidak mendapat perhatian.”

    Menurut catatan lembaga PBB untuk urusan anak-anak UNICEF, “sekurangnya 1.981 kematian akibat campak dilaporkan terjadi di Kongo tahun ini. Dua pertiganya terjadi pada balita. Pada tanggal 23 Juni, ada 115.000 kasus campak, jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan 65.000 kasus di seluruh tahun 2018.”

    Sekalipun campak membunuh orang lebih banyak daripada Ebola, tak ada respon besar terhadap campak.

    Kini lembaga PBB menyelenggarakan vaksinasi besar-besaran melawan campak di daerah yang terinfeksi Ebola di Kivu Utara.

    Keterlibatan masyarakat

    Para pekerja kesehatan kini bekerja dengan pemimpin setempat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mereka.

    Hak atas foto WHO/ Image caption Penduduk yang tinggal di daerah terpencil dijangkau melalui radio komunitas dan jejaring masyarakat.

    “Kita harus mendengar masalah mereka, seperti kita juga ingin didengar. Pendekatan kita harus berubah menyesuaikan dengan masukan dari masyarakat setempat, dan melihat kebutuhan kesehatan mereka,” kata Kate White.

    Menurutnya, perang persepsi ini bisa dimenangkan.

    “Membangun kepercayaan itu harus melalui membangun hubungan dalam jangka panjang.”

    Seperti halnya Charles Lwanga-Kikwaya. Ia dan tim medisnya diserang di pusat vaksinasi Ebola di Kongo.

    Hak atas foto WHO Image caption Charles Lwanga-Kikwaya tetap bertekad membasmi wabah ini.

    Ia dirawat enam hari akibat serangan itu, dan sesudah beberapa bulan, ia kembali bekerja melawan Ebola.

    “Saya harus terus berjuang sampai wabah ini selesai,” kata Lwanga-Kikwaya.

    “Saya tak bisa membiarkan saudara-saudara saya mati karena penyakit ini, padahal saya mampu untuk menghentikannya.”


    Artikel yang berjudul “Ebola: Serangan terhadap pekerja medis hambat penangkalan wabah di Kongo” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments