• Breaking News

    Tumpahan minyak dan gas proyek Pertamina di Laut Jawa: Ribuan karung limbah dan sebabkan warga yang perlu biaya hidup ‘nganggur’

    MinyakHak atas foto ANTARA FOTO

    Kebocoran gas dan minyak pada proyek Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) yang telah terjadi sejak dua pekan lalu dan mencemari lautan Karawang hingga Bekasi, Jawa Barat, dan menyebabkan matinya ikan dan udang di daerah tersebut.

    Setiap harinya, warga membersihkan ribuan karung tumpahan minyak yang sampai ke pesisir.

    Petambak ikan dan udang di Desa Cemarajaya, Karawang, Rusban, mengatakan sejak awal pekan ini, ia telah menganggur karena laut tercemar oleh minyak yang tumpah dari kawasan eksplorasi migas Pertamina.

    Ia mengatakan pencemaran tersebut membuat ikan dan udang mati secara perlahan.

    “Petani tambak harusnya sudah persiapan ‘menanam lagi’. Tapi, sekarang kayak gini ada limbah, masukin (bibit) juga takut… Takut mati lagi,” ujarnya.

    Berdasarkan data WALHI, tumpahan minyak mentah sudah mengotori enam desa di Karawang hingga ke kawasan Muara Gembong di Bekasi.

    Beberapa pantai di Karawang seperti Pantai Tanjung Pakis, Pantai Sedari, Pisangan, Samudera Baru, Pantai Pelangi ditutup sebab kondisi bibir pantai Karawang menghitam.

    “Kita nganggur sekarang”

    Hak atas foto ANTARA Foto Image caption Warga turun tangan untuk membersihkan tumpahan minyak yang terbawa arus hingga ke pesisir.

    Rusban mengatakan warga turun tangan untuk membersihkan tumpahan minyak yang terbawa arus hingga ke pesisir.

    Warga melapisi tangan dengan sarung tangan dan menggunakan sekop untuk mengumpulkan minyak, yang menurut Rusban, berbau menyengat seperti minyak tanah dan terasa panas jika terinjak oleh kaki.

    Kadang, limbah yang tergolong Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) itu pun menempel di kulit atau baju warga, ujarnya.

    Hak atas foto ANTARA FOTO Image caption Pemerintah Kabupaten Karawang menutup sementara tempat wisata pantai di Karawang untuk mencegah kesehatan warga terdampak air laut yang tercemar tumpahan minyak mentah (Oil Spill) milik Pertamina yang tercecer di pesisir laut Karawang.

    Setiap harinya, mereka bisa mengumpulkan ribuan karung berisi limbah minyak tersebut.

    “(Minyaknya) datang lagi, datang lagi. Kita nggak tau sampai kapan limbah ini berhenti,” katanya.

    “Kita udah nganggur sekarang. Rumah tangga kan butuh biaya setiap harinya. Dari Pertamina minta kebijakannya lah.”

    Hak atas foto ANTARA FOTO Image caption Warga membawa karung berisi pasir yang tercemar tumpahan minyak.

    Kepala Divisi Pesisir dan Maritim Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Ohiongyi Marino, mengatakan seharusnya warga menghindari area yang terkontaminasi dengan tumpahan minyak.

    Pertamina, kata Ohiongyi, seharusnya mengimbau masyarakat untuk tidak menciduk tumpahan minyak mentah tersebut dan memasukannya ke dalam karung tanpa perlindungan khusus karena minyak mentah memiliki kemungkinan besar mengandung zat berbahaya. “Pertamina tidak memperingatkan masyarakat daerah Pesisir Karawang untuk menghindari area tumpahan minyak mentah yang menjadi kewajibannya dalam menanggulangi tumpahan minyak” ujar Ohiongyi.

    Hak atas foto Detik.com Image caption Kepala Divisi Pesisir dan Maritim Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Ohiongyi Marino, mengatakan seharusnya warga menghindari area terkontaminasi dengan tumpahan minyak.

    Plt. Kepala Puslit Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dede Heri Yuli Yanto, mengatakan peralatan yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak harusnya sebisa mungkin menjaga kontak langsung dengan anggota tubuh, terutama mata dan sistem pernafasan.

    “Secara khusus sifat karsinogeniknya terjadi ketika masuk ke sistem pencernaan dan saluran pernafasan,” ujarnya.

    Bagaimana kasus bermulai?

    Semburan gas dan minyak di sumur lepas pantai YYA1 milik Pertamina Hulu Energi di blok migas ONWJ terjadi tanggal 12 Juli.

    Pada tanggal 15 Juli, Pertamina mengeluarkan status darurat dengan bersurat ke SKK Migas dan Kementerian ESDM.

    Hak atas foto ANTARA Image caption Sejumlah anak bermain di Pantai Samudera Baru, Karawang, Jawa Barat.

    VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, mengatakan sejauh ini belum bisa menyebutkan penyebab kebocoran minyak dan gas karena proses investigasi masih berlanjut.

    “Indikasi sementara karena terjadi sesuatu hal atau karena anomali tekanan saat pengeboran sumur tersebut sehingga menyebabkan gelembung gas,” ujarnya.

    Kepala Divisi Pesisir dan Maritim ICEL, Ohiongyi Marino, menyayangkan Pertamina menghabiskan waktu tiga hari untuk menentukan status darurat, hingga akhirnya tumpahan minyak sampai ke pantai.

    Dalam waktu itu, kata Ohiongyi, seharusnya Pertamina memberi sosialisasi ke masyarakat tentang kejadian itu dan memberi tahu mereka bahwa minyak itu termasuk bahan berbahaya.

    Hak atas foto Pertamina Image caption Anggota Emergency Response Team Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) membersihkan pantai yang terdampak tumpahan minyak.

    Merespons hal itu, Fajriyah mengatakan, Pertamina awalnya berharap kasus kebocoran tersebut bisa tertangani dengan oil boom, atau peralatan yang digunakan untuk melokalisir atau mengurung tumpahan minyak di air.

    “Tapi kan kemudian ternyata ada yang lolos. Apakah mungkin karena, yang namanya laut, arus, yang mungkin prediksi kita juga mungkin tidak terlalu akurat ternyata,” kata Fajriyah.

    “Kita pikir (aliran minyak ke) sebelah sini, tapi ternyata masih lolos juga. Pastinya kita tidak harapkan itu masuk ke pesisir karena kita sudah melakukan penjagaan-penjagaan di laut.”

    Meski begitu, Fajriyah mengatakan sejak hari pertama minyak masuk ke pantai, Pertamina langsung melaksanakan bersih-bersih pantai dengan melibatkan masyarakat.

    Pihaknya, katanya, juga melakukan patroli untuk memastikan nelayan-nelayan tidak menghampiri daerah sekitar anjungan.

    Posko kesehatan juga sudah didirikan untuk melayani warga pesisir.

    Bagaimana progres penanggulangan kebocoran?

    Fajriyah mengatakan para petuas proyek belum bisa mendekati anjungan atau sumur.

    Maka itu, ia belum bisa memastikan berapa banyak minyak yang bocor tiap harinya.

    Sebelumnya, anjungan tersebut ditargetkan untuk menghasilkan 3.000 barel minyak per hari.

    Hak atas foto Detik.com Image caption Setiap harinya warga bisa membersihkan ribuan karung berisi limbah minyak yang sampai di pantai.

    “Yang jelas semakin hari progres kami di offshore-nya semakin baik untuk menghadang oil spill sampai ke pantai,” ujarnya.

    Pertamina telah memobilisasi 29 kapal, 3.500 meter oil boom offshore, 3.000 meter oil boom shoreline, dan 700 meter fishnet di pesisir pantai terdampak.

    Hak atas foto Instagram @Iienbarbie/via REUTERS Image caption Kebakaran melanda Teluk Balikpapan tahun lalu diduga akibat minyak yang menggenang di permukaan perairan itu.

    Menurut Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu, penghentian sumber gas dan tumpahan minyak dengan cara mematikan sumur yang bocor, memerlukan waktu sekitar 10 minggu sejak dinyatakan kondisi darurat.

    “Pertamina telah melibatkan Boot & Coots, perusahaan dari US yang memiliki proven experience dalam kasus serupa dengan skala yang lebih besar, seperti di Gulf of Mexico,” ujar Dharmawan.

    Bagaimana tanggung jawab Pertamina menurut Undang-Undang?

    Manajer Kampanye Pangan Air & Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional WALHI, Wahyu Perdana, mengatakan Pertamina harus bertanggung jawab untuk menanggulangi tumpahan minyak, merehabilitasi lingkungan, dan mengganti kerugian masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Sebelumnya, tahun lalu, tumpahan minyak Pertamina juga terjadi di Balikpapan.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menggugat Pertamina dan beberapa pihak terkait kasus pencemaran itu.

    Hak atas foto EPA Image caption Karyawan PT Pertamina (Persero) berupaya membersihkan Pantai Melawai dari tumpahan minyak di Balikpapan.

    “KLHK harus bergerak cepat untuk memeriksa kembali dokumen lingkungan. Apa yang ditemukan KLHK pada kasus pencemaran akibat tumpahan minyak di Balikpapan, itu cukup membuktikan terdapat beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Pertamina,” ujarnya.


    Artikel yang berjudul “Tumpahan minyak dan gas proyek Pertamina di Laut Jawa: Ribuan karung limbah dan sebabkan warga yang perlu biaya hidup ‘nganggur'” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments