• Breaking News

    Sutopo Purwo Nugroho: Berjuang melawan kanker sambil menangkal hoaks tentang bencana

    Sutopo Purwo NugrohoHak atas foto AFP/Getty Images Image caption Sutopo dikenang koleganya sebagai “pahlawan kemanusiaan yang tetap melayani publik walaupun dalam keadaan sakit”.

    Sutopo Purwo Nugroho telah menjadi wajah penanggulangan bencana di Indonesia, yang dengan gigih menyampaikan informasi terbaru tentang bencana juga menangkal hoaks — semuanya ia lakukan sambil berjuang melawan penyakitnya sendiri.

    Pria yang menjabat sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu meninggal dunia pada usia 49 tahun di Guangzhou, China pada Minggu (07/07) dini hari, setelah hampir dua tahun melawan kanker paru-paru.

    Kiprah Sutopo di bidang manajemen kebencanaan mendapatkan apresiasi dari dalam maupun luar negeri, termasuk dinobatkan sebagai Asian of The Year oleh surat kabar Singapura The Straits Times pada tahun 2018.

    Kepala BNPB, Doni Monardo mengenang Sutopo sebagai “pahlawan kemanusiaan, yang tetap melayani publik walaupun dalam keadaan sakit dengan semangat kerja dan pengabdian yang luar biasa.”

    Kabar kematian Sutopo pertama kali diumumkan oleh akun Twitter resmi Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB. Disebutkan bahwa Sutopo meninggal dunia pada pukul 2 dini hari waktu Guangzhou, atau pukul satu dini hari waktu Jakarta.

    Kabar tersebut juga disampaikan putranya, Muhammad Ivanka Rizaldy melalui Instagram pada Minggu dini hari. Ia meminta para sahabat dan keluarga untuk memaafkan semua kesalahan mendiang, dan mendoakannya.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, mengatakan kondisi Sutopo menurun sejak tiga hari terakhir.

    “Terakhir kali itu info yang saya dapat dari istrinya beliau susah tidur, dan sudah dikasih obat tidur tetap tidak bisa; dan ada kondisi sesak nafas,” kata Rita kepada BBC News Indonesia.

    Pada 15 Juni lalu, Sutopo berangkat ke Guangzhou untuk berobat setelah kanker paru yang dideritanya “telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain”. Ia meminta maaf kepada warganet karena tidak bisa menyampaikan informasi tentang bencana dalam satu bulan ke depan.

    Menurut Rita, sebelum berangkat, Sutopo memberi amanat supaya pekerjaan di Pusat Data, Informasi, dan Humas (Pusdatinmas) ditangani oleh para pejabat eselon tiga.

    Berdasarkan informasi yang diterima para staf BNPB, Sutopo akan dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah. Prosesi pemakaman akan dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

    “Itu sebagai bagian dari penghormatan kami kepada beliau,” kata Rita.

    Sutopo Purwo Nugroho memulai kariernya di Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT). Pada tahun 2010, ia pindah ke BNPB untuk menjabat sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Belakangan, di tahun yang sama, Sutopo diangkat sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB hingga saat ini.

    Seiring waktu, Sutopo menjadi sumber informasi yang terpercaya di waktu bencana. Namun baru pada tahun 2018, ketika Indonesia dilanda serangkaian bencana alam, namanya dikenal secara luas dan ia menjadi wajah penanggulangan bencana di Indonesia.

    Sepanjang tahun 2018, lebih dari lima bencana alam besar menimpa Indonesia, di antaranya gempa bumi di Lombok dan tsunami di selat Sunda.

    Dan selama itu, Sutopo dengan ulet menyampaikan informasi melalui jumpa pers, wawancara langsung dengan wartawan, dan akun Twitter pribadinya, serta menangkal hoaks yang tersebar di media sosial.

    Semua itu ia lakukan sambil melawan penyakit kankernya yang telah mencapai stadium 4.

    Sutopo didiagnosis dengan kanker pada akhir 2017, dan sejak itu telah beberapa kali menjalani pengobatan.

    Sutopo dan Raisa

    Dalam menyebarkan informasi seputar kebencanaan di Twitter, tak jarang Sutopo turut menyebut akun non-pemerintah dan non-kebencanaan, termasuk penyanyi populer Raisa.

    Berdasarkan pantauan BBC News Indonesia, sudah lebih dari 90 kali juru bicara BNPB itu menyebut akun media sosial Raisa dalam cuitannya soal informasi terbaru tentang bencana atau sekadar informasi soal kemacetan.

    Ketika ditanya alasannya, Sutopo menjawab: “Biar Raisa ikut menyebarkan info bencana.”

    Jawaban itu pun mendorong warganet mengadakan kampanye #RaisaMeetSutopo untuk mempertemukan kedua sosok ini. Dan keduanya akhirnya bertemu pada November 2018, pada acara promosi album Raisa.

    Waktu itu Sutopo berkelakar bahwa saking bahagianya, ia lupa kalau ia sedang menderita penyakit kanker stadium 4.

    Kinerja Sutopo juga mendapatkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo, yang menemuinya secara pribadi pada Oktober 2018 silam, menjelang ulang tahunnya yang ke-49.

    Hak atas foto AFP/Getty Images Image caption Sutopo, kerap dipanggil dengan “Pak Topo”, dikenal akrab dengan para awak media.

    Di kalangan wartawan, Sutopo kerap dipanggil dengan “Pak Topo”, sosok yang menjadi sumber andalan untuk informasi tentang bencana. Ia dikenal akrab dengan para pemburu berita, dan tak jarang berbagi kebijaksanaan melalui kata-kata mutiara.

    Sutopo juga pernah mengaku bahwa ia belajar dari para wartawan tentang cara mengetik berita di ponsel dan menyebarkannya dengan cepat.

    Salah satu kenangan paling berkesan tentang Pak Topo yang dialami BBC News Indonesia terjadi pada 2015 silam. Waktu itu, seorang wartawan BBC News Indonesia yang masih hijau menelepon Sutopo yang sedang berada di luar kota.

    Tanpa basa-basi, si wartawan itu langsung menanyakan informasi terbaru tentang suatu bencana.

    “Kok langsung tanya begitu, sapa dulu dong, apa kabarnya begitu,” jawab Sutopo.

    “Duh maaf, Pak. Saya wartawan baru,” kata wartawan itu.

    Sutopo di mata koleganya

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, yang bekerja di bawah Sutopo sejak 2015, menggambarkan sosok Sutopo sebagai “pejabat publik yang enerjik dan sangat mencintai dunia pekerjaannya sendiri.”

    Sutopo, menurut Rita, memiliki pribadi yang menyenangkan dan selera humor.

    “Beliau menjadi suatu ikon bagi kami sendiri di Pusdatinmas, menjadi contoh, menjadi motivasi lah bagi kami di bawahnya untuk bisa menjalankan tugas itu sebaik-baiknya,” imbuhnya.

    Sementara Ketua BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa Sutopo “telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk pada tahun 2008.”

    Kepada BBC News Indonesia, Doni mengurai sejumlah prestasi Sutopo, antara lain penghargaan di Bidang Inovasi Kebencanaan yang diterimanya dari PBB di Baku, Azerbaijan pada Januari 2019.

    Penghargaan itu diberikan untuk situs web petabencana.id yang mengumpulkan, menyortir, dan menampilkan informasi banjir secara real-time dari informasi di media sosial.

    Bagaimanapun, hal yang paling diingat dari sosok Sutopo ialah ketulusannya dalam melaksanakan pekerjaannya.

    “Selalu beliau menyarankan: bekerjalah selalu dengan hati. Karena kalau kita bekerja dengan hati, seberat apapun pekerjaan akan terasa ringan. Itu selalu beliau tekankan kepada kami bawahannya,” kata Rita.


    Artikel yang berjudul “Sutopo Purwo Nugroho: Berjuang melawan kanker sambil menangkal hoaks tentang bencana” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments