• Breaking News

    Setya Novanto: Stres, takut, tak bisa tidur, efek ‘jera’ penempatan di Rutan Gunung Sindur

    Setya Novanto saat salat Idul Fitri Juni lalu.Hak atas foto Antara Image caption Setya Novanto dihukum penjara 15 tahun dalam kasus e-KTP pada April 2018.

    Pemindahan Setya Novanto ke penjara khusus narapidana teroris dan narkoba Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, sebagai hukuman akan dijadikan pola bagi tahanan korupsi yang melanggar aturan di penjara Sukamiskin.

    Hal ini diungkapkan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Abdul Aris, setelah Setya Novanto kembali dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung.

    “Ini yang pertama (dilakukan) untuk Sukamiskin dan pola ini akan kita pakai ke depan karena di Sukamiskin tidak ada sel isolasi bagi napi tipikor (tindak pidana korupsi),” kata Abdul Aris.

    Mantan ketua DPR Setya Novanto dipindah ke Rutan Gunung Sindur pada pertengahan Juni lalu setelah beredar foto dia tengah berkunjung ke toko bangunan di Kabupaten Bandung Barat.

    Kepada petugas yang melakukan penilaian setelah satu bulan di Rutan Gunung Sindur, Setya Novanto menyatakan “cemas dan berusaha bertahan” dengan kondisi di rutan dengan tingkat keamanan tertinggi itu.

    Setya Novanto dihukum 15 tahun, denda Rp500 juta, dan dicabut hak politik selama lima tahun pada 24 April 2018 dalam kasus korupsi e-KTP yang merugikan negara lebih dari Rp2,3 triliun.

    Stres, takut, tak bisa tidur

    Hak atas foto Antara Image caption Setya Novanto dipenjara karena kasus e-KTP.

    “Rutan ini diperuntukkan untuk napi teroris dan bandar narkotika dengan pegawai khusus … kunjungan juga tidak boleh bertemu langsung hanya pakai kaca penyekat … Setnov mungkin melihat lingkungan begitu menimbulkan kecemasan maka dia berusaha bagaimana bertahan dengan mentaati segala peraturan di Rutan Gunung Sindur,” kata Abdul Aris.

    “Dia merasa menyesali dan menyadari yang dia lakukan itu salah dan itu dituangkan dalam pernyataan bermaterai.”

    “Pertama, stres, kedua cemas, ketiga ketakutan. Dua malam iti tak bisa tidur karena ketakutan karena di situ lingkungan teroris semua. Lingkungannya beda, nuansanya beda. Ketika masuk ke lingkungan yang kita tahu itu teroris, itu membuat waswas. Apalagi seseorang yang istilahnya belum pernah kumpul di situ,” katanya lagi.

    Abdul Aris mengatakan pengalaman di Gunung Sindur itu menimbulkan efek “jera”.

    “Satu bulan dia tak boleh dikunjungi. Istilahnya tidak berkomunikasi dengan orang-orang, isolasi atau tutupan sunyi, tidak boleh ketemu sama keluarga dan lawyer-nya. Jadi makan jatah nasi di dalam saja.”

    “Tapi kita tetap periksa kesehatan, olahraga ringan, bersih-bersih kamar. Biar dia memahami, merenunglah apa yang diberikan di Sukamiskin sudah baik, medium security kan. Dengan dia berada di situ, oh berarti ada lapas yang berat pengamanannya, disiplin dalam hal pengawasan dan pengamanan. Biar dia cerita sama yang lain,” kata Abdul Aris.

    Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Tejo Herwanto, memastikan kembalinya Setya Novanto ke lapas itu pada hari Minggu (14/07) malam.

    Selain syarat administsratif dan berbuat baik, terpidana kasus korupsi E-KTP ini telah menyatakan “kesanggupan untuk tidak melakukan kesalahannya lagi,” kata Tejo.

    Sementara Abdul Aris menyatakan pertimbangan lain adalah “kesehatan yang bersangkutan, kan dia mempunyai komplikasi penyakit jantung. Kalau di Gunung Sindur kan jauh dari rumah sakit. Kalau sewaktu-wakti dia anfal karena penyakit jantungnya, itu lebih berisiko.”

    Keluarnya Setya Novanto ke toko bangunan dengan menggunakan alasan izin berobat menyebabkan dua orang pegawai Lapas Sukamiskin, dijatuhi hukuman disiplin.

    Petugas pengawalan berinisial SS diberi sanksi penundaan gaji, sedangkan komandannya berinisial YAP dijatuhi sanksi penundaan kenaikan pangkat.


    Artikel yang berjudul “Setya Novanto: Stres, takut, tak bisa tidur, efek ‘jera’ penempatan di Rutan Gunung Sindur” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments