• Breaking News

    Sepuluh film pilihan untuk ditonton di bulan Agustus

    Hobbs and ShawHak atas foto Universal Pictures

    Dari spin-off Fast & Furious sampai versi live-action Dora The Explorer, Nicholas Barber memilih sepuluh film yang tidak boleh Anda lewatkan bulan ini.

    Hak atas foto Warner Bros.

    Blinded by the Light

    Queen, Elton John, dan The Beatles baru-baru ini kembali laris manis berkat film-film musikal yang menyenangkan hati penonton. Kali ini giliran Bruce Springsteen. Diadaptasi secara longgar dari memoar jurnalis Sarfraz Manzoor, Blinded by the Light adalah drama komedi tentang Javed (pendatang baru Viveik Kalra), remaja keturunan Pakistan-Inggris di tahun 1980-an yang bermimpi menjadi seorang penulis, tapi terhambat oleh keberatan dari keluarganya yang keras dan rasisme dari warga lokal. Kemudian ia mendengar lagu rock yang kuat tapi lembut dari sang penyanyi yang dijuluki The Boss itu.

    Hak atas foto Warner Bros.

    The Kitchen

    Setahun sejak dirilisnya film arahan Steve McQueen, Widows, muncul film dengan konsep serupa: tiga perempuan tanpa pengalaman kriminal mengambil alih bisnis ilegal suami mereka. Tapi jajaran pemain dan latar belakang periode yang unik harusnya memastikan bahwa The Kitchen menemukan identitasnya sendiri. Melissa McCarthy, Tiffany Haddish, dan Elisabeth Moss memerankan trio istri gangster di New York tahun 1970-an. Ketika suami mereka dipenjara, para perempuan ini mengambil alih bisnis keluarga, dan mendapati bahwa mereka penjahat yang lebih baik dari suami mereka.

    Cerita ini diangkat dari serial komik terbitan Vertigo/DC Comics; dan skenario filmnya digarap oleh Andrea Berloff, yang mendapat nominasi Oscar untuk skenario Straight Outta Compton.

    Hak atas foto Universal Pictures

    Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Vin Diesel, hal terbaik tentang film Fast & Furious terakhir ialah percekcokan antara dua agen rahasia yang diperankan Dwayne Johnson dan Jason Statham, Luke Hobbs dan Deckard Shaw. Kini dua teman-tapi-musuh itu tampil dalam film spin-off, di mana mereka bekerja sama untuk melawan Brixton Lore (Idris Elba), ‘teroris internasional yang diperkuat dengan teknologi siber’.

    Film ini juga turut diramaikan oleh aktris Vanessa Kirby yang memerankan adik Shaw dan Helen Mirren muncul sebagai bintang tamu, semuanya diarahkan oleh David Leitch yang rekam jejaknya – John Wick, Atomic Blonde, Deadpool 2 – menunjukkan bahwa ialah jagonya membuat adegan-adegan aksi fantastis.

    Hak atas foto Paramount Pictures

    Dora and the Lost City of Gold

    Mengingat kini Indiana Jones sudah sekuno harta karun yang ia temukan, dan waralaba Lara Croft sudah tamat, inilah waktu yang tepat untuk kedatangan harta karun yang lebih muda, yaitu Dora the Explorer. Dalam film live-action pertama yang diadaptasi dari kartun Nickelodeon populer, Dora (Isabela Moner) mendaftar di sebuah SMA di Amerika. Tetapi ketika orang tuanya (Michael Peña dan Eva Longoria) hilang, ia kembali ke hutan dengan ranselnya, sebilah golok, dan Boots si monyet (disuarakan oleh Danny Trejo).

    Dora and the Lost City of Gold adalah satu dari sedikit film anak-anak Hollywood yang dibintangi jagoan perempuan dari etnis Latina. Film ini disutradarai James Bobin, yang mengarahkan dua film Muppets terbaru dan merupakan ko-kreator serial televisi Flight of the Conchords.

    Hak atas foto Sony Pictures Classics

    Pain and Glory

    Pain and Glory adalah film terbaru penulis-sutradara Pedro Almodóvar yang paling mendekati otobiografi. Sebuah drama komedi lembut di mana seorang sutradara kawakan (Antonio Banderas) merenungkan kariernya, memperbaiki hubungannya dengan kolega dan kekasih lama, dan mengenang ibunya, yang diperankan dalam kilas balik oleh Penélope Cruz.

    Film ini ditayangkan perdana di Cannes, di mana Banderas memenangkan penghargaan aktor terbaik untuk penampilannya yang “hangat dan bernuansa”.

    Hak atas foto Neon

    Luce

    Luce Edgar adalah bintang pelajar di sebuah SMA di AS. Diperankan oleh Kelvin Harrison Jr, dia adalah seorang yang serba bisa dan inspiratif. Prestasi akademik dan atletiknya begitu mengesankan, apalagi mengingat bahwa ia adalah mantan tentara anak di Eritrea sebelum diadopsi oleh orang tua Amerika yang liberal (Naomi Watts dan Tim Roth). Tapi mungkin dia tidak begitu sempurna. Seorang guru (Octavia Spencer) berpendapat bahwa ia memiliki kecenderungan pada kekerasan dan orang tua Luce harus mempertanyakan apakah mereka telah membuat hidupnya lebih baik atau lebih buruk.

    Film yang tegang, cerdas, dan provokatif ini disutradarai oleh Julius Onah dan diadaptasi dari drama panggung JC Lee.

    Hak atas foto CBS Films

    Scary Stories to Tell in the Dark

    Scary Stories to Tell in the Dark terinspirasi oleh trilogi buku anak ditulis oleh Alvin Schwartz pada 1980-an. Berlatar tahun 1968, film ini menceritakan kisah menyeramkan dari beberapa remaja di suatu kota kecil yang menemukan sebuah buku di rumah kosong… sebuah buku cerita horor di mana semua ceritanya adalah tentang mereka.

    Film ini diarahkan sutradara Norwegia André Øvredal. Tapi nama paling menarik yang terlibat dalam pembuat film ini adalah ko-penulis skenario dan ko-produser, Guillermo del Toro: ini merupakan proyek layar lebar pertamanya sejak film pemenang piala Oscar, The Shape of Water.

    Hak atas foto Getty Images

    The Peanut Butter Falcon

    Meski judulnya begitu, The Peanut Butter Falcon bukanlah film tentang selai kacang atau burung pemangsa. Judul itu adalah nama yang akan digunakan seorang penggemar gulat berusia 22 tahun (Zack Gottsagen) ketika ia kelak menjadi pegulat profesional. Masalahnya, ia mengidap sindroma Down, dan hidup dalam pengawasan 24 jam sehari di sebuah panti. Ia pun berusaha untuk kabur demi berlatih di akademi gulat yang dijalankan oleh idolanya (Thomas Haden church).

    Juga dibintangi Shie LeBeouf dan Dakota Johnson, film arahan Mike Schwartz dan Tyler Nilson ini “sangat menggugah”, kata para kritikus film.

    Hak atas foto Wilson Webb/Annapurna Pictures

    Where’d You Go, Bernadette

    Richard Linklater memiliki banyak film yang sangat bervariasi, mulai dari komedi anak-anak (School of Rock, Bad News Bears) ke kartun fiksi ilmiah psikedelik (A Scanner Darkly), dan trilogi romansa (Before Sunrise dan sekuel-sekuelnya) ke drama dokumenter kejahatan (Bernie). Film ke-20 dari Richard Linklater ini tampak berbeda dari film-film sang sutradara sebelumnya, sebagian karena berfokus pada karakter perempuan, dan sebagian karena berlatar dari AS sampai Antartika.

    Diadaptasi dari novel laris karya Maria Semple, Where’d You Go, Bernadette Fox dibintangi Cate Blanchett, seorang ibu di daerah suburban yang mengagetkan keluarganya ketika ia menemukan kembali minatnya pada arsitektur — lalu menghilang. Kristen Wiig, Judy Greer, dan Billy Crudup turut membintangi komedi tentang krisis setengah baya dengan kejutan misterius.

    Hak atas foto Okta

    What You Gonna Do When The World’s On Fire?

    Pada musim panas tahun 2017, sebuah perkampungan miskin di Louisiana diguncang oleh serangkaian pembunuhan bermotif ras. Penulis skenario-sutradara Italia Roberto Minervini hadir di sana untuk merekam rangkaian pertemuan dan pawai yang menyusulnya. Film dokumenternya yang direkam dalam monokrom ini menunjukkan para pemilik bar dan penyanyi blues diserang oleh Ku Klux Klan, diabaikan oleh pihak berwenang, dan diusir dari tempat tinggal mereka. Tapi mereka menemukan harapan dalam cinta dan solidaritas.

    Ada juga begitu banyak energi dan dialog yang berkesan dalam What You Gonna Do When The World’s On Fire? Anda bisa mengira film ini sebagai drama fiksi. Pengulas film One Room With A View menyebut film ini “memilukan, penting, dan menginspirasi”.

    Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Ten films to watch this August, di BBC Culture.


    Artikel yang berjudul “Sepuluh film pilihan untuk ditonton di bulan Agustus” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments