• Breaking News

    Garry Winogrand, pria yang memotret sejuta foto

    Sebuah pameran di New York mengungkap sisi yang indah dan penuh warna dari karya fotografer jalanan yang dikenal dengan karya foto hitam putihnya, Garry Winogrand.

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Pemandangan masa lalu Amerika tampak diproyeksikan ke dinding: Seorang gadis berpakaian musim panas berdiri di sebelah jendela toko yang dipoles. Pekerja kantoran bergaya ala karakter dalam serial Mad Men berjalan melalui taman kota. Seorang perempuan dengan bandana bertengger di rambutnya sedang berada di konter makan siang, restoran di sekitarnya bernuansa merah muda.

    Warna-warna hangat seperti merah, oranye yang kekuningan, warna biru yang lezat – membuat Anda ingin berbaring di bawah sinar matahari.

    Ada suara-suara nostalgia dari bunyi proyektor tua yang dimainkan dari galeri sebelah. Anda setengah berharap untuk mendengar Sinatra di radio dan mengendus aroma hot dog.

    Apa yang membuat mesin waktu ini lebih membingungkan adalah bahwa orang yang bertanggung jawab atas foto-foto Amerika Serikat yang penuh nostalgia dalam kemegahan pasca perangnya adalah fotografer Garry Winogrand.

    Dikenal karena cara memotret perkotaan Amerika di tahun 60-an dan 70-an dengan foto hitam putih secara bergerilya, Winogrand diklaim sebagai bapak dari fotografi jalanan; perpaduan antara fotografer kriminal Weegee (yang brutalitas foto-fotonya dirasakan juga di karya Winogrand) dan Diane Arbus (yang dia kenal dan menggelar pameran bersama).

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Foto-fotonya seringkali mengambil subjek yang bergerak, hidup dan seringkali diambil dari sudut miring. Raut muka kesal tampak dari beberapa subjek yang difoto di jalanan New York.

    Bahkan jika Anda tahu karya-karyanya, terutama jika Anda tahu karya-karyanya – itu seperti wahyu

    Namun ketika Anda melihat foto-foto baru ini, semuanya berwarna, Anda bertanya-tanya apakah Anda mengenalnya sama sekali.

    Tujuan dari pameran musim panas Museum Brooklyn adalah untuk menunjukkan kepada kita sisi yang berbeda dari Winogrand – lebih intim, mungkin lebih sentimental.

    Ini menyatukan 450 gambar, yang sebagian besar belum pernah dipamerkan di depan umum. Bahkan jika Anda tahu pekerjaannya – pada kenyataannya, terutama jika Anda tahu pekerjaannya – itu seperti wahyu.

    Ketua kurator Drew Sawyer menjelaskan bagaimana pameran itu terjadi.

    Beberapa foto berwarna Winogrand telah dipamerkan sebelumnya, tetapi tidak sampai Sawyer dan rekannya pergi ke arsip sang fotografer di Tucson, Arizona, mereka baru tahu jumlah sebenarnya dari foto-foto ini – sekitar 45.000 slide Kodachrome.

    “Sebagian besar bahkan belum pernah dicetak,” jelas Sawyer, sedikit meringis mengingatnya.

    “Saya tidak benar-benar mengetahui apa yang kami hadapi saat itu.”

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Dilahirkan pada tahun 1928 dalam keluarga kelas pekerja di Bronx, Winogrand memiliki masa kecil yang sulit.

    Kondisi keuangannya terbatas dan Winogrand gelisah tanpa cukup tahu apa yang harus dilakukan dengan energi yang dia miliki

    Dia gagal di sekolah menengah, hanya mendapatkan diploma setelah bergabung dengan Angkatan Udara AS.

    Kemudian dia keluar dari Universitas Columbia – meninggalkan studi seni lukisnya setelah mencoba kamera teman dan bergabung dengan klub fotografi kampus.

    Setelah mengirimkan gambar-gambar seorang perempuan yang pingsan karena mabuk di trotoar ke majalah Life pada tahun 1950 – mengungkapkan gaya foto yang sedang dia kembangkan – ia mendapat komisi pertama dari majalah yang menggunakan fotonya.

    Pada usia 22 tahun, tanpa niatan, dia telah menjadi seorang fotografer profesional.

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Selama 35 tahun ke depan, Winogrand bekerja dengan kecepatan tinggi – membuat foto-foto olahraga, seri majalah, iklan dan mengajar, serta menghabiskan berhari-hari di arena yang paling ia cintai, keramaian jalanan Amerika.

    Meskipun ia menjadi sosok yang disegani, berpameran bersama Arbus dan Lee Friedlander dalam pameran Dokumen Baru seminal di MoMA pada 1967, ia mulai keluar dari mode.

    Baru setelah kematiannya yang pada tahun 1984, Winogrand diakui sebagai salah satu fotografer AS terbaik abad ke-20, seorang pewaris yang pantas untuk Walker Evans dan Robert Frank.

    Dalam warna yang hidup

    Namun dia juga sebuah teka-teki – paling tidak karena dia memotret sangat banyak foto.

    Dikatakan bahwa Winogrand mengambil foto dengan sangat cepat sehingga orang-orang di depan lensanya tidak menyadari bahwa dia benar-benar menekan tombol rana.

    Sebuah film dokumenter tentangnya baru-baru ini, berjudul All Things Are Photographable, memperkirakan bahwa ia mengambil sesuatu yang melebihi 1 juta foto.

    Banyak yang tidak pernah dikupas dengan baik.

    Kurator MoMA berpengaruh, John Szarkowski, menulis bahwa di tahun-tahun terakhir kehidupan Winogrand, sang fotografer adalah “seperti mesin yang terlalu panas yang tidak akan berhenti bahkan setelah kunci dimatikan, memotret gulungan demi gulungan film, bahkan tidak berusaha untuk memproses foto itu “.

    Ditanya mengapa dia memotret, Winogrand pernah dengan malas mengatakan bahwa itu bukan untuk bercerita, tetapi untuk melihat “seperti apa sesuatu yang terlihat di kamera”.

    Dia tampaknya sudah berhenti peduli seperti apa rupanya, bahkan baginya.

    Susan Kismaric, seorang kurator veteran dan penulis yang mengenal Winogrand dengan baik, membandingkan karya berwarna untuk menemukan periode baru dalam kehidupan Picasso yang tidak ada seorangpun yang sepenuhnya menyadari,

    “Ada aspek karyanya yang tidak kita ketahui ada, sungguh,” katanya padaku.

    “Dan karya-karya ini layak untuk dilihat.”

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Untuk fotografer generasi Winogrand, yang memotret pada tahun 40-an dan 50-an, film berwarna adalah media yang menjengkelkan.

    Sebagai permulaan, itu tidak dapat diandalkan dan lambat (membutuhkan cahaya yang lebih terang dan kecepatan rana yang lebih lambat).

    Selain itu, harganya sangat mahal dan sulit untuk diproses, yang membuatnya susah dibeli orang siapa pun yang tidak mendapat komisi dari majalah atau biro iklan.

    Fotografer Walker Evans menyatakan foto berwarna warna “vulgar”. Sebagian besar fotografer lain, bersungguh-sungguh menghindarinya.

    Baru ketika foto-foto berwarna William Eggleston dipamerkan pada pertengahan 1970-an, foto-foto berwarna dianggap layak dicetak besar dan dipamerkan di museum besar.

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Selama ini, Winogrand sibuk memotret – seringkali dengan dua kamera di lehernya (satu untuk foto hitam dan putih, satu untuk foto berwarna).

    Banyak dari gambar monokromnya yang paling terkenal ternyata memiliki versi berwarna yang dia potret sesudanya, seolah-plah dia bertekad untuk membandingkan hasilnya, atau menangkap sesuatu yang sulit sulit dijangkau oleh foto fitam putih.

    Salah satu foto dalam pameran itu memperlihatkan detail bunga-bunga di rok seorang perempuan, yang dia bingkai di dinding berwarna kobalt.

    Di tempat lain, seorang lelaki yang sedang berbaring di atas bangku menunjukkan kepada kita, mungkin tanpa disadari, kaus kaki merahnya (Kodachrome dikenal karena warna merahnya).

    Jika foto-foto hitam-putih Winogrand sering tampak siap meledak, bingkai foto hampir tidak menutupi energi mereka, di sini ada perasaan yang lebih sensual, introspektif.

    “Karya-karya itu sangat indah,” ujar Sawyer.

    “Dan pekerjaan Winogrand tidak sering dibicarakan dalam istilah-istilah itu.”

    Pameran ini membawa kita pada perjalanan Winogrand yang asli New York ke barat Amerika, melalui Arizona, Texas, New Mexico dan California, di mana ia akhirnya menetap di akhir tahun 1970-an.

    Meskipun kita belum pernah melihat sebelumnya, foto-foto bagian barat Amerika entah bagaimana terasa akrab: arsitektur, langit biru lebar, sinar matahari tanpa radiasi yang tak berujung, dan mobil (selalu mobil).

    Seorang anak yang mengenakan atasan bergaris menyelipkan koin ke dalam mesin penjual otomatis, mungkin di sebuah motel – sebuah studi dengan warna kuning keemasan, putih salju, dan merah tua Coca-Cola.

    Seorang penjual makanan cepat saji bergulat dengan plastik di kiosnya, garis-garis merah muda kemejanya berpadu dengan baik dengan tenda bergaris di atas.

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Namun, foto-foto yang diambil di tempat asal Winogrand di New York yang merasa lebih mengejutkan.

    Kita melihat jalan-jalan Midtown yang keras seperti pada foto-foto hitam-putihnya, debu dan lorong-loron yang dalam di bawah gedung-gedung tinggi, yang membuat harapan terasa terkurung sebagian besar tidak ada.

    Di mana pun Anda melihat, ada momen-momen berhenti sejenak di huru-hara. Satu foto memata-matai sekelompok tiga orang yang berkeliaran di beberapa langkah.

    Mereka terlihat seperti penjaga; seragam mereka berwarna biru muda di atas granit berwarna jelaga di blok kantor.

    Dalam serangkaian gambar yang diambil di pasir kesenangan Pulau Coney, seorang pria paruh baya yang botak berbaring dan menghisap cerutu.

    Warna biru celana renangnya berbenturan dengan selimut bermotif warna-warni, tetapi dia tidak peduli. Dia di surga, dan, untuk sesaat, kita juga.

    Hak atas foto The Estate of Garry Winogrand

    Satu hal konsisten dengan karya-karya hitam-putih Winogrand: humornya yang licik.

    Salah satu gambar jalanan memperlihatkan seorang bocah lelaki dengan gaya rambut quiff yang populer di tahun 60an dan setelan biru laut melenggang di belakang tiga perempuan dewasa, jaketnya dikaitkan dengan santai di atas bahunya.

    Dia sepertinya akan mengajak mereka minum. Ini adalah salah satu gambar favorit saya di pameran, mungkin karena mengambil bahan-bahan dari foto hitam-putih – komposisi yang sama, energi pendorong yang sama – dalam arah yang kurang mengancam.

    Tidak ada halangan.

    Apa pun yang terjadi selanjutnya dalam gambar ini hampir pasti akan menyenangkan, dan lucu.

    Meskipun pandangan Winogrand dalam gambar-gambar monokrom tidak pernah benar-benar brutal, karya foto berwarna tampaknya membuatnya lebih menyenangkan.

    Orang-orang yang ia foto juga tampak lebih nyaman. Terpaksa memperlambat – oleh film Kodachrome-nya, oleh cahaya, mungkin juga oleh daya pikat warna-warna di jendela bidiknya – seolah-olah ia menemukan ritme yang berbeda dengan kota.

    Ditanya mengapa Winogrand mengambil semua ribuan demi ribuan foto, Kismaric mengatakan dia tidak yakin, bahkan sekarang: itu hampir merupakan tindakan yang menyenangkan, katanya, cara kehilangan dirinya dalam drama dunia yang dilakukan di sekelilingnya.

    “Garry suka sekali memotret,” ujarnya.

    “Saya pikir itu sesederhana dan serumit itu.”

    Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The man who took 1 million photos, di laman BBC Culture.


    Artikel yang berjudul “Garry Winogrand, pria yang memotret sejuta foto” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments