• Breaking News

    “Dulu saya kecanduan narkoba, kini kecanduan lari”

    Catra saat melintas bukti dan gurunHak atas foto BBC THREE/@DIRTDIVA333

    Ketika anda melakukan olah raga lari, apa yang terbayang? Bagi pelari biasa, menyelesaikan maraton mungkin bisa bikin perasaan bangga berhari-hari.

    Bagi penggemar ultra maraton – lari dengan jarak lebih dari 42 km – rasanya ekstrem. Pelari jarak jauh ini memaksa tubuh mereka mencapai batas, berlari hingga 160 kilometer atau lebih.

    Ultra maraton kini jadi olah raga global yang diadakan di mana-mana, mulai dari Gurun Sahara (254 km Des Sables), Afrika Selatan (87 km Comrade Marathon) hingga Inggris (111 km di Hadrian Wall).

    “Menabrak dinding”

    Ungkapan “menabrak dinding” dipakai ketika seorang pelari tak bisa lari lebih jauh lagi. Namun kini tampaknya dinding seperti itu nyaris tak ada. Harian Inggris Guardian mencatat 1.000% peningkatan lari ultra maraton di seluruh dunia belakangan ini.

    Beberapa mengaitkan hal itu dengan generasi milenial. Para pelari ultra kompetitif memasang foto kemenangan mereka di media sosial, yang mendorong teman-teman mereka melakukan hal serupa.

    Kami bicara dengan para pelari ultra maraton untuk memahami motivasi mereka berlari hingga ratusan kilometer.

    ‘Ultramaraton jadi meditasi saya’

    Hak atas foto BBC THREE / INSTAGRAM

    Miranda, 29, London

    Sebelum melakukan ultra maraton pertama, saya gelisah: apakah saya bisa menyelesaikannya. Memikirkannya saja bikin saya stress. Saya coba menenangkan diri, termasuk dengan ikut hipnoterapi.

    Maka saya kaget sekali ketika menemukan bahwa ultra maraton adalah hal paling berhasil membuat saya santai, dari segala hal yang pernah saya lakukan.

    Tahun lalu saya lari ultra bersama teman-teman. Ini jadi kesempatan untuk kabur dari kepenatan kota. Bayangkan menghabiskan waktu 16 jam di udara segar, tanpa target apapun kecuali melangkahkan kaki. Ini adalah kebahagiaan bagi saya.

    Tak seperti maraton biasa, tak ada tekanan soal waktu. Kita bisa lari kecil di samping seseorang selama berjam-jam, tanpa perlu mengatakan apa-apa. Ini mirip sekali dengan pengalaman meditasi zen.

    Sesudah berlari satu jam, pikiran saya berubah tenang dan itu saatnya saya mulai masuk zona meditasi. Sesudahnya, saya sungguh santai dan tak lagi punya tenaga untuk marah tentang apapun.

    ‘Badan saya mencoba menghentikan saya berlari’

    Hak atas foto BBC THREE / INSTAGRAM

    Marthe, 25, Manchester

    Badan saya mencoba menghentikan saya berlari. Rasanya ini adalah reaksi dari trauma yang saya alami pada ultra maraton pertama saya.

    Saya di Nepal, dan sedang berlari di hari kedua ketika seorang asing menyerang saya. Saya ingin berhenti, tapi saya berlari untuk mengenang sahabat masa kecil saya yang bunuh diri beberapa tahun lalu.

    Maka akhirnya saya selesaikan juga lari saya.

    Pernah sebelum lari badan saya seperti membeku, bahkan sebelum saya keluar rumah. Saya sempat berdiri lama di luar pintu, padahal sudah siap dengan peralatan lari saya. Rasanya dua jam saya berdiri, sampai anjing saya menyentak dan menyadarkan saya.

    Kini lari – bersama terapi – menjadi bagian dari pemulihan saya. Sesudah serangan di Nepal itu, saya putuskan berlari untuk memperkuat diri. Saya belum siap lagi untuk berlari ultra, tapi pasti siap suatu saat nanti.

    ‘Kesunyian membantu saya menghadapi hidup’

    Hak atas foto BBC THREE / INSTAGRAM

    Jeff, 28, London

    Ketika berlari, saya menutup diri dari tekanan dunia luar. Saya seorang introvert dan butuh waktu dengan pikiran saya sendiri untuk menghadapi hidup.

    Ketika berlari, pikiran saya jernih. Berlari membantu saya berpikir dengan cukup dan membuat saya bisa memperbaiki kecerdasan emosional saya.

    Ini penting sekali bagi profesi saya sebagai pengusaha. Banyak sekali terobosan bisnis yang saya lakukan ketika berlari.

    Bagi saya media sosial mengganggu sekali. Terhubung ke orang-orang selama 24 jam sehari itu berlebihan. Kesendirian saat berlari memberi saya ruang kosong yang bikin saya punya waktu untuk diri sendiri.

    ‘Berlari membantu saya merasa perempuan dan laki-laki setara di Afghanistan’

    Hak atas foto BBC THREE / FREETORUN

    Zeinab (kiri), 24, Kabul

    Saya mulai lari dua tahun lalu ketika saya lihat teman-teman sekamar saya lari dua hari sekali pagi-pagi. Suatu pagi saya tanya, apakah saya boleh ikut. Mereka sedang bersiap berangkat lari 10km.

    Itulah pertama kali saya merasa bebas berlari di luar ruang, karena biasanya kegiatan perempuan dibatasi di kota tempat saya tinggal di Afghanistan.

    Teman-teman saya kaget saya bisa ikut lari menyesuaikan dengan mereka. Teman-teman saya itu sedang mempersiapkan diri berlari ultra mataron 402km di Srilanka. Keren sekali buat saya perempuan Afghan ikut lomba lari ultra internasional!

    Kini saya juga melakukan hal yang sama.

    Lari membuat saya merasa tak ada perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki di Afghanistan. Saya ingin masyarakat Afghan paham bahwa perempuan berolahraga itu bukan tabu, dan kami bisa lari sama jauhnya dengan laki-laki.

    Saya ingin menerobos keterbatasan saya.

    Bahkan kini saya dan rekan lari saya berlatih di malam bulan Ramadan, sesudah waktu berbuka.

    ‘Dulu saya kecanduan narkoba, kini saya kecanduan lari’

    Hak atas foto BBC THREE / @DIRTDIVA333 Image caption Catra

    Catra, 54, California

    Umur 27 tahun saya ditahan satu malam di penjara. Ini pengalaman terburuk saya, sedemikian menakutkan hingga saya memutuskan berhenti pakai narkoba.

    Selagi di sekolah, saya bergabung dengan lingkungan buruk yang kerjanya pesta terus. Pacar saya memakai metamfetamine dan segera saya kecanduan. Kami ditangkap dan saya kemudian ikut rehabilitasi narkoba. Selama enam bulan saya di sana, sampai akhirnya bisa lepas dari kecanduan.

    Sekarang ini, sudah 25 tahun saya bersih, tak lagi memakai narkoba.

    Saya mulai berlari untuk mencari pengganti narkoba. Saya berlari 10km sesudah melihat selebaran promosi. Tiga bulan kemudian, saya melakukan maraton pertama. Tak lama, saya pun berlari ultra.

    Saya ikut lomba lari 100, 200 dan 300 mil. Ketika menyelesaikan lari sejauh itu rasanya sangat menyenangkan.

    Kita merasa telah menyelesaikan sesuatu yang sangat besar, rasanya: ‘Wow! Rasaya seperti melayang!’

    Saya adalah satu dari sekitar selusin orang di dunia yang pernah lari 100 mil lebih dari 100 kali. Dengan begini, bisa dibilang saya kecanduan lari.

    Jika Anda terkena dampak masalah dalam artikel ini, Anda bisa mendapatkan dukungan di sini.

    Oleh Hannah Price & Sophie Haydock


    Artikel yang berjudul “”Dulu saya kecanduan narkoba, kini kecanduan lari”” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments