• Breaking News

    Sisi lain demo 22 Mei 2019: Dari polisi yang telepon anak hingga penyapu yang bersihkan jalan

    Demonstrasi 22 Mei 2019Hak atas foto Reuters

    Foto seorang petugas keamanan yang tertangkap kamera sedang bicara dengan anaknya melalui video telepon menjadi pemicu simpati warganet.

    Foto itu dijepret oleh fotografer Mas Agung Wilis Yudha Baskoro. Foto ini mengungkap sisi-sisi lain demonstrasi di Jakarta yang diwarnai kekerasan dan menyebabkan enam orang meninggal dunia.

    “Bawaslu sedang ramai. Sementara itu rasa lelah dan rindu rumah memang benar adanya,” kata Mas Agung melalui Instagramnya.

    Foto tersebut memicu banyak reaksi, termasuk menggambarnya menjadi karikatur.”Mari kirim doa untuk polisi dan TNI. Semoga segera bisa berkumpul keluarga. Semoga tak ada pemuda pemudi naif Indonesia yang menjadi korban provokasi,” kata Nia Dinata melalui twitternya.

    Tak hanya melalui internet, warga menunjukkan simpati mereka kepada petugas dengan membuka dapur umum untuk menyediakan makanan dan minuman.

    Usaha itu disambut baik dengan banyak komentar, termasuk seorang pengemudi ojek online yang menawarkan untuk mengantar makanan tersebut secara gratis.

    Upaya menggalang sumbangan ini dibalas oleh beberapa orang dengan bukti pengiriman uang.

    Tetap bekerja

    Di tengah kericuhan yang terjadi sejak 21 Mei hingga 22 Mei 2019 di Jakarta, warganet juga menyoroti kehidupan yang tetap berjalan dan mereka yang menjalankan tugasnya.

    Para penyapu jalan misalnya yang tetap menjalankan tugasnya meskipun keributan terjadi di dekat mereka.

    Para pedagang keliling yang berada di lokasi demo tanpa takut, sampai inisiatif warga untuk mendukung para petugas yang menjaga jalannya demonstrasi dengan mengirimkan bantuan makanan.

    Kericuhan Tanah Abang: Gubernur Anies Baswedan sebut ‘enam orang meninggal’, polisi akan mengecek

    Prabowo ‘tolak penghitungan KPU’, Joko Widodo ‘ucapkan terima kasih kepada rakyat’

    Hasil pemilu 2019: Perjalanan politik Prabowo dan peluangnya pada 2024

    Dalam sebuah video yang banyak disebarkan, seorang penjual kopi keliling nampak bersepeda meliuk-liuk di antara aparat yang menjaga demonstrasi di depan Bawaslu.

    Warganet memuji keteguhan para pedagang yang tetap berusaha berjualan di lokasi-lokasi yang berisiko.

    Lompati Twitter pesan oleh @NurAziz_

    Bukti jihad sesungguhnya.

    Bila bapak penjual sepeda itu baca twit saya ini, titip salam untuk keluarga bapak. Oh iya, semoga lancar barokah untuk usahanya, Pak 🙏

    — Aziz (@NurAziz_) 22 Mei 2019

    Hentikan Twitter pesan oleh @NurAziz_

    Zaenuddin, seorang penjual kopi keliling dengan sepeda, terlihat menjual dagangannya di depan Sarinah, hanya beberapa meter dari lokasi demo di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat.

    Daerah itu sudah disterilkan, dan hanya ada petugas, beberapa wartawan dan pendemo di tengah perempatan.

    “Saya tidak takut jualan di sini, kenapa takut, saya tidak salah. Saya hanya berjualan,” kata Zainuddin sambil sibuk membuat aneka minuman untuk para pembelinya, yaitu para petugas Brimob.

    Hanya dalam satu jam, persediaan airnya habis dan dia menyudahi jualan untuk mengisi ulang es dan airnya.

    Ari Nugroho, 33 tahun, menjual cilok tak jauh dari situ. “Saya sebenarnya takut nggak takut, tapi ya sudah nekat saja, yang penting laku,” kata Ari.

    Pada Selasa, 21 Mei, dia juga berjualan di dekat Bawaslu hingga tengah malam. Dia memang sengaja berniat berjualan di lokasi demo, karena berharap dagangannya lebih cepat laku.

    Dengan sepeda, Ari membawa sepanci cilok yang berisi 1.500 butir cilok. Harganya Rp 5.000 per enam butir. Biasanya dagangannya habis paling cepat dua hari, tapi dalam semalam dia berhasil menjual seluruhnya.

    Berada di lokasi yang rawan, dia sadar bahwa tindakannya berisiko. “Ini adu nasib, risikonya ya saya harus tanggung sendiri,” kata dia.

    Untuk menghindari terjebak dalam kerusuhan, Ari mengusahakan untuk selalu berdagang di balik garis batas petugas.

    Hak atas foto Aprillio Akbar

    “Waktu mulai ricuh-ricuh semalam, saya lari sembunyi di dekat Kedutaan Jepang,” kata dia. Setelah barikade dibuka, barulah dia mengayuh sepedanya pulang ke tempat tinggalnya di daerah Senen.

    Isu yang dibawa oleh para demonstran menurutnya tidak penting.

    “Tidak penting untuk saya, sudah ada aturannya bahwa yang kalah ya harus mengalah, tidak perlu sampai jadi begini,” kata pria yang berasal dari Karanganyar ini.

    Warganet juga menyoroti para penyapu jalan yang tetap menjalankan tugas.


    Artikel yang berjudul “Sisi lain demo 22 Mei 2019: Dari polisi yang telepon anak hingga penyapu yang bersihkan jalan” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments