• Breaking News

    Killing Eve musim kedua: Kisah pengejaran yang masih memikat

    Killing EveHak atas foto BBC America

    Serial buatan Phoebe Waller-Bridge tentang agen perempuan dan musuhnya, seorang perempuan pembunuh bayaran, kembali hadir — dan hubungan antara dua karakter utamanya menjadi semakin rumit, menurut Caryn James.

    Sejarah penuh dengan perempuan yang membunuh dan menjadi mata-mata, jadi tak ada kebaruan khusus dalam premis awal Killing Eve tentang seorang agen intelijen perempuan yang mengejar seorang perempuan pembunuh bayaran yang mematikan dan penuh gaya.

    Daya tarik serial ini adalah antara dinamika hubungan cinta-benci yang rumit antara dua karakter itu. Permainan pengejaran mereka di Eropa dan Rusia penuh dengan dialog yang memikat dan tajam. Di musim keduanya, serial ini masih menghadirkan gabungan sempurna antara penulisan naskah, akting, dan tempo.

    Eve – seorang agen yang cerdas, tegas, tapi terlupakan, yang diperankan dengan segar oleh Sandra Oh — selalu didorong oleh semangat yang muncul dari temuan-temuannya.

    ‘Seks yang menjual’: Era baru serial televisi yang eksplisit Fleabag: Apakah musim kedua serial ini akan sebagus sebelumnya?

    Kini dia punya motif balas dendam setelah Villanelle, yang glamor dan susah ditangkap, membunuh sahabatnya. Obsesinya dibarengi dengan ketegangan seksual yang juga dilihat oleh orang lain, dan Eve, sampai episode terakhir musim sebelumnya, memilih untuk tidak mengakuinya.

    Jodie Comer hadir dengan perubahan luar biasa sebagai Villanelle.

    Seperti apa pun dia menyamar atau permainan psikologis yang dilaluinya, Comer memperlihatkan kesenangan yang diperoleh Villanelle saat dia harus membunuh korban lain. Di musim pertama, dia punya kesempatan untuk membunuh Eve, tapi tidak melakukannya.

    Dan seiring dengan tumbuhnya ketertarikan mereka pada satu sama lain, masing-masing perempuan ini berlaku terbalik dengan kepribadian mereka biasanya, untuk alasan-alasan yang tak mereka ketahui sebelumnya.

    Hak atas foto BBC America

    Musim pertama memunculkan pertanyaan besar yang berujung pada sebuah dinamika yang tak selesai di episode terakhirnya: apakah ketertarikan seksual di masing-masing perempuan ini sebagai suatu hal yang betul-betul terjadi, sebuah strategi, atau malah keduanya?

    Eve masuk ke apartemen Villanelle di Paris, dan saat mereka saling berbaring bersebelahan dengan satu sama lain di kasur, tiba-tiba dia menusuk musuhnya itu.

    Eve, yang masih punya nurani, kemudian menyesal dengan aksi kekerasan yang dilakukannya. Villanelle yang terluka pun bisa melarikan diri. Musim baru serial ini kemudian berlanjut 30 detik kemudian.

    Eve kembali ke London, tersiksa dengan ketidakpastian akan apakah dia telah menjadi pembunuh atau tidak. Dan ini bisa menjadi pertukaran identitas antara keduanya.

    Apa yang membuat Marie Kondo jadi populer? Para perempuan yang membuat komedi seks yang berani

    Villanelle, yang dikejar-kejar oleh orang-orang Rusia yang mau membunuhnya, pergi ke London untuk mencari Eve. Pertama, dia kabur dari rumah sakit dalam baju pinjaman: sebuah piyama superhero dengan tulisan Pow! Crash! dan Blam!

    Di musim ini, ada semacam lelucon bahwa Villanelle, yang menyukai pakaian mewah, dipaksa untuk terlihat jelek. Dia terlihat jijik ketika dia harus memakai sepasang selop putih berhias manik-manik yang secara estetis terlihat menyinggung mata yang dicurinya dari rumah sakit.

    Phoebe Waller-Bridge, yang menciptakan serial ini (atas adaptasi dari novel Luke Jennings), tak lagi menulis musim ini dan digantikan oleh Emerald Fennell yang menyamai ketajaman dari musim pertamanya.

    Fennell, yang menulis dua episode pertama dan beberapa episode lainnya, tampaknya akan jadi bintang besar. Dalam karier aktingnya, dia memerankan Patsy di Call the Midwife dan akan menjadi Camilla Parker-Bowles di dua musim The Crown berikutnya.

    The Sopranos: acara revolusioner yang mengubah dunia televisi Ternyata salah: Gambaran sosok peretas dalam film dan televisi

    Para pemain pendukung di serial ini juga mampu mencuri perhatian. Sebagai suami Eve yang penuh dukungan, Niko, Owen McDonnell tak pernah membosankan (kumis besarnya membantu) tapi dia membiarkan kita melihat betapa membosankannya pernikahan bagi karakternya.

    Mungkin menarik untuk melihat sebenarnya seperti apa kisah cinta mereka dulu. Bagaimana sebenarnya dua karakter ini akhirnya bersama?

    Fiona Shaw juga tak tertandingi sebagai Carolyn, atasan Eve yang penuh misteri. Di musim ini, dia merekrut Eve ke agen intelijen, kali ini di MI5 dan bukan MI6, untuk menyelidiki kematian seorang taipan teknologi yang mungkin terhubung ke Villanelle.

    Di ruang otopsi saat melihat jasad korban, Eve menolak dan mengatakan bahwa dia hanya ingin pulang.

    “Pulang?!” kata Carolyn dengan pengucapannya yang jelas. “Itukah yang ingin kau lakukan? Apa yang dilakukan orang di rumah?”

    Tak pernah ada jawaban semenarik ini sejak karakter Dowager Countess di Downton Abbey bertanya, “Apa itu akhir pekan?”

    Carolyn juga mengingatkan Eve soal Villanelle. “Jika dia masih hidup, kau harus menemukannya sebelum dia menemukanmu.”

    Ketertarikan antara dua karakter ini hanyalah awalnya. Kini mereka punya banyak motif untuk menemukan — dan jika mereka mampu melakukannya — membunuh satu sama lain.

    Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di Killing Eve series 2 review di laman BBC Culture


    Artikel yang berjudul “Killing Eve musim kedua: Kisah pengejaran yang masih memikat” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments