• Breaking News

    Kenapa lebih banyak laki-laki meninggal karena bunuh diri?

    Seorang laki-laki sedang merenung.Hak atas foto Getty Images Image caption Perasaan terasing adalah salah satu faktor risiko bunuh diri.

    Di berbagai negara di seluruh dunia, perempuan lebih mungkin didiagnosis dengan depresi dan mencoba bunuh diri. Namun mengapa tingkat bunuh diri laki-laki berkali-kali lipat lebih tinggi daripada perempuan?

    Enam tahun lalu kakak saya mengambil nyawanya sendiri. Usianya 28 tahun.

    Tragisnya, bunuh diri lebih umum dari yang diperkirakan orang. Pada 2016, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan ada 793.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian besar adalah laki-laki.

    Di Inggris, tingkat bunuh diri laki-laki telah mencapai yang terendah sejak 1981 — 15,5 kematian per 100.000. Tapi bunuh diri masih menjadi penyebab kematian terbesar bagi laki-laki di bawah usia 45 tahun. Dan jurang gender yang mencolok tetap ada.

    Bagi perempuan Inggris, angkanya sepertiga dari laki-laki: 4,9 kasus bunuh diri per 100.000.

    Hal serupa ditemukan di banyak negara lain. Dibandingkan dengan wanita, pria tiga kali lebih mungkin meninggal karena bunuh diri di Australia, 3,5 kali lebih mungkin di AS dan lebih dari empat kali lebih mungkin di Rusia dan Argentina.

    Data WHO menunjukkan bahwa hampir 40% negara memiliki lebih dari 15 kematian akibat bunuh diri per 100.000 pria; hanya 1,5% yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi untuk perempuan.

    Tren ini telah ada sejak lama. “Sejak kami mulai merekamnya, kami telah melihat perbedaan ini,” kata psikolog Jill Harkavy-Friedman, wakil presiden divisi penelitian untuk American Foundation for Suicide Prevention, organisasi kesehatan yang menolong mereka yang terdampak oleh bunuh diri.

    Bunuh diri adalah masalah yang sangat sensitif dan kompleks dengan banyak penyebab — dan kita tidak pernah bisa sepenuhnya mengetahui alasan di baliknya.

    Namun, seiring kesadaran akan kesehatan mental tumbuh, ada pemahaman publik yang lebih besar tentang faktor-faktor yang mungkin memengaruhi.

    Satu pertanyaan yang masih tersisa berkaitan dengan kesenjangan gender ini. Dan pertanyaannya semakin besar jika kita mempertimbangkan bahwa perempuan cenderung lebih sering didiagnosis dengan depresi.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Kenapa laki-laki mengalami masalah ini?

    Perempuan juga lebih sering melakukan percobaan bunuh diri daripada laki-laki. Di AS misalnya, perempuan dewasa di AS melaporkan upaya bunuh diri 1,2 kali lebih sering daripada pria. Tetapi metode bunuh diri laki-laki seringkali lebih ganas, membuatnya lebih mungkin untuk selesai sebelum siapapun bisa mengintervensi.

    Akses pada sarana bunuh diri adalah faktor yang berkontribusi besar: di AS misalnya, enam dari sepuluh pemilik senjata adalah laki-laki — dan senjata api menjadi penyebab lebih dari setengah kasus bunuh diri.

    Laki-laki juga mungkin memilih metode ini karena mereka lebih berniat menuntaskan usahanya. Satu penelitian terhadap lebih dari 4.000 pasien rumah sakit yang menunjukkan perilaku melukai diri sendiri (self-harm) menemukan, misalnya, bahwa laki-laki memiliki niat bunuh diri yang lebih kuat daripada perempuan.

    Apa masalah yang dialami oleh laki-laki — dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu?

    Faktor risiko

    Salah satu elemen kunci adalah komunikasi. Terlalu sederhana bila dikatakan bahwa perempuan lebih terbuka untuk membagi masalah mereka dan pria cenderung memendamnya.

    Tetapi memang benar bahwa, selama beberapa generasi, banyak masyarakat telah mendorong laki-laki untuk menjadi “kuat” dan tidak mengakui bahwa mereka sedang kesulitan.

    Ini seringkali dimulai pada masa kanak-kanak. “Kita mengatakan kepada anak laki-laki bahwa ‘anak laki-laki tidak boleh menangis’,” kata Colman O’Driscoll, mantan direktur eksekutif operasi dan pengembangan di Lifeline, sebuah badan amal Australia yang menyediakan dukungan krisis 24 jam dan layanan pencegahan bunuh diri.

    “Kita mengondisikan anak laki-laki sejak usia sangat muda untuk tidak mengekspresikan emosi, karena mengekspresikan emosi berarti menjadi ‘lemah’.”

    Mara Grunau, direktur eksekutif di Pusat Pencegahan Bunuh Diri di Kanada, menunjukkan bahwa masalah tersebut juga ada pada cara orang tua berbicara dengan anak dan bagaimana orang tua mendorong anak untuk berkomunikasi tentang diri mereka sendiri.

    “Para ibu berbicara lebih banyak kepada anak perempuan mereka daripada anak laki-laki … dan mereka lebih sering berbagi dan mengungkapkan perasaan,” katanya,

    “Kita hampir selalu mengandalkan perempuan untuk menjadi emosional.”

    Hak atas foto Getty Images Image caption Sejak usia muda, kita mendidik laki-laki untuk berpikir bahwa menangis adalah tanda kelemahan.

    Tetapi laki-laki bisa jadi lebih jarang mengakui ketika mereka merasa rentan, apakah kepada diri mereka sendiri, teman, atau dokter umum. Mereka juga bisa lebih segan daripada perempuan untuk menemui dokter.

    Sebuah studi British Medical Journal Inggris menemukan tingkat konsultasi perawatan primer umum 32% lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan. (Tingkat konsultasi untuk depresi, dinilai dengan apakah pasien menerima resep antidepresan, 8% lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan).

    “Laki-laki lebih jarang mencari bantuan untuk kesehatan mental,” kata Harkavy-Friedman. “Bukan berarti laki-laki tidak punya masalah yang sama dengan perempuan — tetapi mereka biasanya lebih jarang mengetahui jika mereka mengalami stres atau kondisi kesehatan mental apapun yang membuat mereka lebih berisiko untuk bunuh diri. “

    Hak atas foto Getty Images Image caption Laki-laki lebih jarang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.

    Jika seseorang bahkan tidak sadar bahwa mereka dalam kesulitan, maka mereka tidak akan menyadari apa yang bisa dilakukan untuk membantu mereka.

    Hanya sepertiga dari orang yang bunuh diri sedang dalam perawatan kesehatan mental ketika mereka mengambil nyawanya sendiri, kata Harkavy-Friedman.

    Lebih berbahaya lagi, alih-alih mencari bantuan melalui saluran yang sudah ada, beberapa laki-laki mungkin berusaha “mengobati diri sendiri”.

    “Laki-laki lebih cenderung menggunakan narkoba dan alkohol, yang mungkin hanya mencerminkan kesulitan yang mereka rasakan — tapi kita tahu bahwa itu menambah faktor pendorong bunuh diri,” kata Harkavy-Friedman.

    Memang, laki-laki hampir dua kali lebih mungkin dibandingkan perempuan untuk memenuhi kriteria ketergantungan alkohol.

    Tetapi minum minuman keras bisa memperparah depresi dan meningkatkan perilaku impulsif; dan alkoholisme diketahui merupakan salah satu faktor risiko untuk bunuh diri.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Laki-laki lebih cenderung menggunakan obat-obatan dan alkohol, yang bisa jadi merupakan cara yang berbahaya untuk ‘mengobati diri sendiri’.

    Faktor risiko lainnya bisa berhubungan dengan keluarga atau pekerjaan.

    Ketika terjadi penurunan ekonomi yang menyebabkan peningkatan pengangguran, misalnya, cenderung ada peningkatan kasus bunuh diri — biasanya 18-24 bulan setelah penurunan tersebut. Sebuah studi di tahun 2015 menemukan bahwa setiap peningkatan 1% dalam pengangguran diiringi peningkatan bunuh diri sebesar 0,79%.

    Kekhawatiran berlebihan tentang keuangan atau usaha mencari pekerjaan bisa memperburuk masalah kesehatan mental bagi siapa pun. Tetapi ada elemen tekanan sosial dan krisis identitas juga.

    “Kita dididik untuk menilai diri sendiri dibandingkan dengan rekan-rekan kita dan menjadi sukses secara ekonomi,” kata Simon Gunning, CEO Campaign Against Living Miserably (Calm), badan amal pemenang penghargaan yang berdedikasi untuk mencegah bunuh diri laki-laki.

    “Ketika ada faktor ekonomi yang tidak dapat kita kendalikan, itu menjadi sangat sulit.”

    Bisa juga ada efek spiral. Di AS, misalnya, asuransi kesehatan sering dikaitkan dengan pekerjaan. Jika seseorang dirawat karena depresi atau penggunaan narkoba, mereka bisa kehilangan perawatan itu ketika kehilangan pekerjaan.

    Faktor risiko lain adalah rasa terisolasi, seperti yang ditulis dokter Thomas Joiner dalam bukunya Why People Die by Suicide (Kenapa Orang Mati karena Bunuh Diri).

    Perasaan ini bisa muncul di setiap jalan kehidupan. Seorang profesional yang dari luar tampak sukses dan telah memprioritaskan peningkatan karier dengan mengabaikan hal-hal, termasuk hubungan sosial, bisa mendapati dirinya ” berada di puncak piramida, sendirian,” kata Grunau.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Di Australia, program Mates in Construction meningkatkan kesadaran akan tingginya tingkat bunuh diri di industri tersebut.

    Tentu saja, penting untuk diingat bahwa walaupun faktor eksternal bisa memicu perilaku bunuh diri pada seseorang yang sudah berisiko, ia tidak pernah menjadi satu-satunya penyebab.

    “Jutaan orang kehilangan pekerjaan, hampir semua dari kita kehilangan hubungan dan kita tidak bunuh diri,” kata Harkavy-Friedman.

    Kemungkinan solusi

    Tidak ada solusi instan untuk masalah yang kompleks ini. Tetapi sejumlah program, kebijakan, dan organisasi nirlaba terus berusaha membuat terobosan.

    Di Australia, misalnya, kesehatan mental dan kelompok pencegahan bunuh diri berusaha mengubah paradigma budaya. Salah satu inisiatif yang mendapat traksi adalah hari RU OK?, yang mendorong orang untuk mendukung mereka yang sedang kesulitan dengan memulai percakapan.

    Pendekatan lain adalah “prinsip bahu-ke-bahu” – mendorong laki-laki untuk berbicara ketika sedang melakukan hal lain, misalnya menonton sepak bola atau pergi bersepeda.

    Mates in Construction, program pelatihan dan dukungan, meningkatkan kesadaran akan tingginya angka bunuh diri di industri dan menunjukkan kepada pekerja konstruksi bahwa mereka bisa menjadi bagian dari solusi.

    Secara keseluruhan, ada penekanan pada “membuat laki-laki lebih leluasa untuk berbicara tentang perasaan mereka — dan mengakuinya sebagai tanda kekuatan”, kata O’Driscoll.

    Teknologi juga menghadirkan opsi-opsi baru. Tidak semua orang mungkin ingin membagi beban yang ia rasakan kepada orang lain, bahkan melalui saluran bantuan.

    Tetapi kecerdasan buatan – seperti chatbot – memungkinkan orang yang rentan untuk berkomunikasi dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan tanpa takut dihakimi.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Selalu ada pilihan untuk bertahan hidup.

    Strategi lain adalah fokus pada dampak bunuh diri pada orang yang dicintai. Kampanye Calm, Project 84 – dinamai demikian untuk mewakili 84 pria yang meninggal setiap minggu karena bunuh diri di Inggris – berfokus pada kesedihan dari mereka yang ditinggalkan.

    Hal ini bisa menangkal perasaan pada beberapa laki-laki bahwa “adalah hal yang ‘tepat’ untuk menarik diri dari kehidupan”, kata Gunning. Ia menekankan: “Selalu ada pilihan untuk bertahan hidup.”

    Solusi lainnya adalah membuat bunuh diri lebih sulit. Setelah penghalang dipasang di jembatan gantung Clifton di Bristol, Inggris, misalnya, satu studi menemukan bahwa bunuh diri akibat melompat dari jembatan berkurang setengahnya — dan tidak ditemukan peningkatan bunuh diri karena melompat dari situs lain di daerah tersebut sebagai tanggapannya.

    Namun demikian, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

    O’Driscoll mengatakan bahwa biasanya lebih banyak perhatian yang diberikan untuk mengurangi kematian karena kecelakaan di jalan raya daripada mencegah bunuh diri, meskipun bunuh diri mengambil lebih banyak nyawa.

    Di Australia, misalnya, tingkat kematian karena bunuh diri secara keseluruhan pada tahun 2015 adalah 12,6 per 100.000 – jumlah tertinggi dalam lebih dari satu dekade – dibandingkan dengan 4,7 per 100.000 karena kecelakaan di jalan.

    Juga diperlukan lebih banyak penelitian. “Jelas,” kata Harkavy-Friedman, “bahwa ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki secara biologis, dalam struktur hormon dan cara otak berkembang dan berfungsi.”

    Tetapi laki-laki dan perempuan seringkali dipelajari bersama, dan meskipun ada upaya untuk mengontrol perbedaannya secara statistik, ini tidak cukup. Harkavy-Friedman percaya bahwa laki-laki dan perempuan perlu dipelajari secara terpisah.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Situasinya semakin baik, tapi masih banyak yang harus dilakukan.

    Tapi ada pertanda positif. Harkavy-Friedman mencatat perubahan besar di sisi profesional; ia mengingat bahwa pada awal kariernya, sulit untuk menerbitkan studi ilmiah tentang bunuh diri karena anggapan bahwa bunuh diri tidak bisa dicegah, ujarnya. Sekarang, kita tahu itu salah.

    Ia juga mengatakan bahwa ada lebih banyak keterlibatan pemerintah daripada sebelumnya. Pada Hari Kesehatan Mental Dunia tahun 2018, pemerintah Inggris mengumumkan menteri pencegahan bunuh diri pertamanya.

    “Inggris lebih maju, setiap langkah di sepanjang jalan,” katanya. Harkavy-Friedman menambahkan bahwa ia percaya strategi nasional telah menyebabkan penurunan tingkat bunuh diri di Inggris.

    Grunau juga menilai situasinya semakin baik. “Kami melihat momentum yang tidak pernah kami lihat sebelumnya,” katanya. “Anda benar-benar bisa berbicara tentang bunuh diri dan orang-orang masih segan, tetapi mereka lebih bersedia untuk membicarakannya.”

    Itu berdampak positif, seperti yang ditunjukkan oleh penurunan kasus bunuh diri di Inggris. Tetap saja, itu tidak cukup. Setiap nyawa yang hilang karena bunuh diri – baik laki-laki maupun perempuan – adalah hidup yang tersia-siakan.

    Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Future.


    Artikel yang berjudul “Kenapa lebih banyak laki-laki meninggal karena bunuh diri?” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments