• Breaking News

    Debat terakhir capres: Apa saja yang menjadi pembahasan warganet?

    Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahyu Putro A Image caption Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma’ruf Amin (kiri) serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

    Rangkaian debat capres-cawapres dalam rangkaian kampanye berakhir pada debat kelima yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (13/4).

    Setidaknya ada dua tagar yang ramai digunakan oleh warganet untuk menanggapi berlangsungnya debat terakhir tersebut, yaitu #debatpilpres2019 dan #debatterakhirpilpres2019.

    Dua tagar tersebut, menurut catatan Spredfast, digunakan dalam lebih dari 20.000 cuitan.

    Sebelumnya, survei Charta Politika yang dilaksanakan dari tanggal 1-9 Maret terhadap 2.000 orang masyarakat dewasa dan terdaftar sebagai pemilih, kebanyakan dari mereka (36,4%) menjawab akan menentukan pilihan berdasar penampilan debat calon presiden dan calon wakil presiden.

    Debat capres terakhir: Sandiaga sebut ‘referendum ekonomi’, Jokowi: ‘tidak mungkin langsung balikkan tangan’ Pemilu: Dari mana sumber kekayaan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga?

    Mereka juga menyatakan bahwa jumlah undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan mencapai 11%. Namun, menurut beberapa pengguna media sosial, dalam debat kali ini pemilih cenderung sudah menentukan pilihan dan formula debat berulang dari sebelumnya.

    Meski begitu, masih ada beberapa hal yang masih menjadi pembahasan para warganet.

    Desa wisata & desa digital

    Jika dalam debat keempat Presiden Jokowi sempat menyebut soal ‘Dilan’ atau ‘digital melayani’ dan di debat ketiga cawapres Ma’ruf Amin menyebut soal ‘infrastruktur langit’, maka kali ini Ma’ruf Amin kembali memunculkan istilah ‘dedi dan dewi’ atau ‘desa digital’ dan ‘desa wisata’.

    Kamus istilah pemilu: Dari mana asalnya cebong dan kampret Industri 4.0, Palapa Ring, dan B20: Kamus istilah debat kedua capres

    Istilah itu disampaikan oleh Ma’ruf Amin saat ditanya soal rencana meningkatkan partisipasi perempuan di bidang ekonomi tatkala masih terjadinya ketimpangan gender soal partisipasi kerja.

    Menurut Ma’ruf, selain lewat program ‘kredit umi’ atau usaha mikro dan bank wakaf mikro, programnya juga akan mengembangkan ‘dewi-dewi dan dedi-dedi’ yang kemudian dijelaskannya sebagai desa wisata dan desa digital.

    ‘Mencontoh China’

    Salah satu poin pada debat yang juga banyak dibahas warganet adalah ketika Prabowo menyebut soal rencananya mencontoh China, yang menurutnya “dalam 40 tahun bisa menghilangkan kemiskinan”.

    Para pengguna media sosial pun kemudian mempertanyakan posisi Prabowo yang selama ini dianggap “anti-komunisme” dan “anti-tenaga kerja asing” terutama dari China.

    Dalam debat antara dua kandidat cawapres yang berlangsung pada 17 Maret lalu, aturan serta jumlah soal tenaga kerja asing sempat masuk dalam pertanyaan dan perdebatan antara Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin.

    Keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia dipertanyakan oleh cawapres Sandiaga Uno, namun menurut cawapres Ma’ruf Amin jumlah mereka sangat kecil dan “terkendali”.

    Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahyu Putro A Image caption Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Ma’ruf Amin mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

    Meski begitu, bagi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik, jawaban Prabowo saat ditanya tentang strategi konkret untuk menjaga stabilitas harga komoditas pertanian dan perikanan, menjadi pertanyaan balik.

    Prabowo mengatakan bahwa ada “kesalahan-kesalahan besar Presiden sebelum bapak” soal perencanaan pembangunan, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan nelayan.

    Lompati Twitter pesan oleh @BBCIndonesia

    Prabowo: Kita harus contoh Republik Rakyat Tiongkok, 40 tahun berhasil hilangkan kemiskinan. Kita harus berani rencanakan pembangunan, lindungi petani dan rakyat kita. Ini kesalahan presiden-presiden sebelum bapak, kita semua harus bertanggung jawab. #DebatPilpres2019

    — BBC News Indonesia (@BBCIndonesia) 13 April 2019

    Hentikan Twitter pesan oleh @BBCIndonesia

    Lewat akun media sosial resminya, Rachland mempertanyakan, kenapa Prabowo malah “menyerang SBY”. Cuitannya itu kemudian ramai dibagikan.

    ‘Halal park’

    Poin soal ‘halal park’ atau taman halal ini disampaikan oleh Jokowi saat kubunya diminta menjelaskan soal strategi dan kebijakan kongkret untuk mengembangkan potensi sektor keuangan syariah dan menjadi pemain ekonomi syariah global.

    Lompati Twitter pesan oleh @mayasumee

    I don’t need halal park

    I need the clear and detailed laws in sharia economics/banking to build a strong foundation.
    We have a huge potency sharia economics (zakat, waqf, sukuk, etc)
    We need the gov use it to take the roles in economy development instead of depending on tax

    — Maya Sumayyah (@mayasumee) 13 April 2019

    Hentikan Twitter pesan oleh @mayasumee

    Meski kandidat cawapresnya, Ma’ruf Amin, menjelaskan soal rencana membentuk komite nasional keuangan syariah dan membangun industri halal bukan hanya untuk dalam negeri maupun luar negeri, namun sebagian warganet tetap bertanya soal apa taman halal yang disebut oleh Presiden Jokowi dan dinyatakan akan berada di kawasan Senayan itu.

    Seorang warganet menulis, bahwa yang dibutuhkan bukanlah taman halal melainkan aturan hukum yang jelas dan detil soal ekonomi syariah dan perbankan untuk membangun fondasi yang kuat.

    Mobile Legends

    Kubu Jokowi tampaknya konsisten menyorot soal perkembangan ekonomi di sektor digital.

    Jika di debat pertama dia menyebut soal unicorn, Dilan, dan Palapa Ring, dan kemudian Ma’ruf Amin menyebut soal ‘infrastruktur langit’, di debat terakhir ini, Jokowi menyebut soal Mobile Legends untuk bertanya ke lawannya, Prabowo-Sandi, untuk mempertanyakan apa strategi mereka untuk mengembangkan ekonomi digital.

    Pilpres 2019: Siapa sebenarnya pemilih Jokowi dan Prabowo? Debat cawapres 2019: Sandiaga ‘tenaga kerja asing harus bisa berbahasa Indonesia, Ma’ruf ‘TKA jumlahnya kecil’

    Penyebutan Mobile Legends pun menjadi pembahasan tersendiri di kalangan warganet.

    Meski kandidat cawapres Sandiaga Uno sempat menyebut soal kebutuhan untuk memudahkan regulasi, membuka lapangan kerja, serta rencana event pelatihan juara dunia, namun Prabowo mengatakan bahwa dia lebih memilih untuk “fokus kebijakan-kebijakan dalam hal-hal yang mendasar yang menjawab kebutuhan pangan, tingkatkan produksi pertanian, penghasilan bagi petani”.

    “Digital-digital itu bagus, tapi rakyat butuh swasembada pangan,” kata Prabowo.

    Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahyu Putro A Image caption Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) melakukan tos dengan cawapres Sandiaga Uno seusai mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

    Di kesempatan berikutnya, Jokowi menanggapi bahwa asalnya dia ingin menggunakan kesempatan itu juga untuk bercerita soal permainan online lainnya seperti PUBG dan Dota, “namun karena jawaban bapak tadi pertanian saja kok nggak sambung.”

    Nama-nama yang disebut Sandiaga

    Salah satu kebiasaan Sandiaga Uno dalam debat yang kemudian kerap menjadi meme atau pembahasan di kalangan warganet adalah penyebutan nama-nama atau karakter-karakter yang ditemuinya saat kampanye.

    Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak tampil dalam debat cawagub DKI Jakarta pada 2017 lalu. Pada debat terakhir capres-cawapres Sabtu (13/4) pun tak jauh berbeda. Sandiaga menyebut nama Nurjanah, Rahman, dan Mia.

    Jika sebelumnya penyebutan nama-nama itu menjadi sebatas anekdot saja saat debat, kini Presiden Jokowi mempertanyakan kebiasaan Sandiaga tersebut.

    “Ini ekonomi makro, bukan mikro, mengelola ekonomi makro, tidak bisa orang per orang dijadikan patokan. Ekonomi negara sangat berbeda sekali. dari sisi supply dan demand harus memakai angka-angka yang didasarkan dari data-data dan survei-survei.

    “Tidak mungkin kebijakan dari satu atau dua atau tiga orang yang menyampaikan keluhan, sering disampaikan sebagai contoh terus-menerus,” kata Jokowi.

    Sandi kemudian menanggapi bahwa kisah-kisah yang ditemuinya saat kampanye itu menunjukkan bahwa “meski angka dan fakta di meja menunjukkan baik-baik saja” tetapi cerita yang diterimanya menunjukkan bahwa situasinya berbeda.


    Artikel yang berjudul “Debat terakhir capres: Apa saja yang menjadi pembahasan warganet?” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments