• Breaking News

    1MDB: Pria flamboyan, perdana menteri, penggila pesta di seputar skandal finansial global

    Jho Low, Najib Razak dan Rosmah MansorHak atas foto Getty Images

    Ini adalah salah satu skandal keuangan terbesar di dunia.

    Miliaran dolar uang negara untuk mensejahterakan rakyat Malaysia lenyap, menghilang ke dalam bayang-bayang sistem keuangan global.

    Menurut jaksa Malaysia dan Amerika Serikat, uang tersebut mengalir ke saku segelintir orang-orang berkuasa dan digunakan untuk membeli real estat mewah, karya seni Van Gogh dan Monet, pesawat jet pribadi dan produksi film Hollywood.

    Kegaduhan dugaan penjarahan uang negara dalam 1MDB telah menggema ke seantero dunia, di mana setidaknya kepolisian di enam negara menyelidiki jaringan transaksi keuangan yang luas membentang dari bank-bank Swiss ke pulau suaka pajak, hingga jantung Asia Tenggara.

    Skandal tersebut bahkan berujung dengan penggulingan partai politik yang telah memerintah Malaysia selama masa kemerdekannya.

    Goldman Sachs, salah satu bank paling kuat di Wall Street, menghadapi tuntutan pidana di Malaysia – yang mana akan mereka hadapi dan bela dengan sekuat tenaga.

    Sementara itu, seorang pria flamboyan yang kini menjadi buronan di AS dan Malaysia masih dalam pelarian – kapal pesiar super mewah dan terkenal miliknya seharga USD250 juta (Rp3,5 triliun) kini ditahan aparat kepolisian.

    Kini, semua mata tertuju ke ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, di mana sang mantan perdana menteri sekaligus mantan ketua dewan penasihat 1MDB Najib Razak akan menjalani persidangan dalam kasus pertama dari serangkaian kasus lain yang melibatkan namanya.

    Sederet tokoh di sekitar skandal 1MDB menggambarkan sebuah kisah yang mendunia – dari para wartawan yang dengan tekun mengikuti aliran dana, hingga tokoh-tokoh elit dunia yang diduga mendapatkan keuntungan.

    Najib Razak

    Najib RazakHak atas foto Getty Images

    Di tengah pusaran kisah ini adalah sang mantan perdana menteri Malaysia: pria yang posisinya sempat tak tersentuh, yang juga menyiapkan dana investasi berdaulat yang “besar dan berani” pada tahun 2009 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya – yang pada akhirnya justru membuat ia dan dinasti politiknya digulingkan secara tidak terhormat sembilan tahun kemudian.

    Untuk benar-benar memahami sosok seorang Najib Razak kita perlu memeriksa asal-usulnya.

    Sebagai putra tertua perdana menteri Malaysia yang kedua, Abdul Razak, dan juga keponakan dari perdana menteri yang ketiga, ia mewarisi sebuah dinasti politik.

    Ketika ia sendiri akhirnya menjadi perdana menteri tahun 2009 lalu – serta sebagai pemimpin partai yang mendominasi peta politik Malaysia selama setengah abad – hal itu tampak seolah ia akhirnya mendapatkan peran yang sudah ditakdirkan kepadanya.

    Sebagai seorang anglofil alias orang yang mengagumi kerajaan Inggris, Najib menyelesaikan masa sekolah menengah atasnya di Malvern College, Inggris, sebuah sekolah privat bergengsi, sebelum melanjutkan studinya mempelajari ekonomi industri di Universitas Nottingham.

    Latar belakang dan retorika tentang pentingnya Islam yang “moderat” membuat ia cocok dengan tokoh-tokoh kontemporer dari dunia barat, termasuk mantan PM Inggris, David Cameron dan Barack Obama.

    Barack Obama dan Najib Razak bermain golf di Basis Pasukan Marinir di HawaiiHak atas foto Getty Images Image caption Pada masanya, Najib dan Barack Obama adalah teman bermain golf

    Tetapi awan mendung sudah menggelayuti sosoknya sejak awal ia menjadi perdana menteri.

    Pertanyaan terkait kesepatakan kapal selam Perancis tahun 2002 yang ia buat ketika masih menjabat sebagai menteri pertahanan menyelimutinya.

    Diduga suap sekitar USD130 juta (Rp1,85 triliun) telah dibayarkan sebagai bagian dari kesepakatan senilai $US1,2 miliar (Rp17 triliun) – yang terus disangkal Najib.

    Pembunuhan keji terhadap seorang model asal Mongolia yang bekerja sebagai penerjemah dalam kesepakatan kapal selam tersebut juga menimbulkan pertanyaan.

    Perancis terus menyelidiki kasus itu, sementara pemerintah Malaysia baru belakangan ini kembali membuka kasus tersebut. Najib bersikeras bahwa ia tak pernah bertemu perempuan itu.

    David Cameron menyambut kedatangan Najib Razak di Downing street nomor 10Hak atas foto AFP Image caption Mantan PM Inggris David Cameron dan mantan PM Malaysia, Najib Razak di Downing street nomor 10, kantor perdana menteri Inggris (Catatan: Keduanya sudah tak lagi berkuasa)

    Najib Razak mendirikan 1MDB pada tahun 2009 sebagai cara untuk mengelola kekayaan Malaysia yang sarat akan sumber daya dengan menggunakan investasi strategis.

    Alarm bahaya muncul pada tahun 2015 saat perusahaan tersebut gagal membayar utang sebesar $US11 miliar (Rp156,6 triliun) kepada sejumlah bank dan pemilik obligasi – meski para penyelidik dan wartawan telah lama mengulik kasus itu.

    Pada bulan Juli 2016, Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan perdana yang menuduh bahwa lebih dari $US3,5 miliar (Rp49,8 triliun) telah dijarah. (Angka tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari $US4,5 miliar atau Rp64 triliun)

    “Sejumlah pejabat korup,” ujar mantan Jaksa Agung AS Loretta Lynch, “menjadikan dana publik ini sebagai rekening bank pribadi.”

    Gugatan tersebut menyebutkan sejumlah nama terduga pelaku, kecuali “Pejabat Malaysia 1”.

    MO1, yang kemudian dikonfirmasi sebagai Najib Razak oleh pemerintahnya sendiri, diduga jaksa penuntut AS telah menerima uang sekitar USD681 juta (Rp9,6 triliun) dari uang yang dicuri namun telah mengembalikan sebagian besar di antaranya.

    Ia dibebaskan dari segala tuntutan oleh aparat kepolisian Malaysia ketika ia masih menjabat, namun setelah partainya kalah tanpa terduga dalam pemilihan umum tahun lalu, hal itu berubah.

    Sejumlah apartemen miliknya digerebek polisi di mana mereka mengamankan koleksi barang mewah dan uang tunai senilai $US28,6 juta (Rp407,3 miliar) miliknya.

    Setidaknya ada 42 tuntutan yang dialamatkan kepadanya atas dugaan korupsi, pencucian uang, dan penyalahgunaan kekuasaan.

    Ia mengaku tidak bersalah atas segala tuntutan tersebut dan mempertahankan pengakuannya itu – termasuk melalui sebuah lagu yang dirilis beberapa pekan sebelum persidangan yang akan dijalaninya.

    Rosmah Mansor

    Rosmah MansorHak atas foto Getty Images

    Kebiasaan berbelanja istri Najib Razak, Rosmah Mansor dibanding-bandingkan dengan Imelda Marcos dan Marie Antoinette.

    Sejak sang suami kehilangan kekuasaan, Rosmah Mansor, 67, juga dituntut dalam kasus pencucian uang dan penghindaran pajak, di mana ia juga mengaku tidak bersalah.

    Selera mewah Rosmah banyak dikecam di Malaysia, di mana ia dikritik keras karena tidak sensitif terhadap masyarakat biasa yang bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Pada tahun 2018, penyergapan polisi ke sejumlah properti miliknya dan sang suami yang tersiar luas membuat panas media sosial dengan foto-foto sejumlah keranjang supermarket yang terisi lebih dari 500 tas tangan mewah, ratusan jam tangan, dan 12.000 buah perhiasan senilai hampir $US273 juta (Rp3,8 triliun) memastikan kecurigaan warga Malaysia bahwa keluarga perdana menteri tersebut memiliki gaya hidup yang luar biasa mewah.

    Dengan citra Rosmah Mansor yang mencolok dan kegemarannya terhadap tas-tas mewah seperti Hermes Birkin, penampilannya di persidangan sangat diperhatikan.

    “Ia tidak kasar, tetapi ia juga tidak ramah atau menyenangkan. Secara pribadi, ia tampil angkuh,” tutur koresponden kantor berita Reuters di Malaysia, Rozanna Latiff.

    “Pada hari-hari ketika Rosmah Mansor memenuhi panggilan pemeriksaan, banyak sekali yang memerhatikan pakaian dan tas-tas yang dikenakannya.”

    Mahathir Mohamad

    Mahathir MohammadHak atas foto Getty Images

    Ini adalah kisah kembalinya situasi politik yang berbeda dari yang lain: pada usia 93 tahun, Mahathir Mohamad, sosok yang mendominasi dunia politik Malaysia sebagai perdana menteri pada era 1980an, 1990an, dan awal tahun 2000an, kembali hadir dan memimpin Malaysia.

    Kembalinya Mahathir ke dalam kegaduhan politik yang ada dilatarbelakangi sebuah hasrat yang jelas – untuk menggulingkan Najib Razak, mantan anak didiknya.

    “Saya mohon maaf kepada semuanya, karena saya yang mengangkatnya, kesalahan terbesar hidup saya. Saya ingin memperbaiki kesalahan tersebut,” ujar Mahathir dalam kampanyenya awal Mei 2018 lalu setelah membelot ke kubu oposisi untuk menghadapi Najib.

    Beberapa hari kemudian, ia mengejutkan dunia dengan berhasil mengalahkan partai lamanya, yang telah menjalankan roda pemerintahan Malaysia selama lebih dari setengah abad.

    Kembalinya Mahathir disambut baik warga Malaysia, yang mana banyak di antaranya mendukung upaya pemerintah yang baru untuk menyeret pihak-pihak yang diduga menjarah 1MDB ke pengadilan.

    Namun pengamat politik mengingatkan bahwa politikus senior itu, bukan hanya membukakan jalan kekuasaan kepada Najib, tetapi juga dituduh memimpin secara otoriter selama masa pemerintahannya dulu.

    Najib Razak ingin bersihkan nama, unggah ‘bukti sumbangan’ Rp1,4 triliun dari Saudi Mantan PM Malaysia Najib Razak dilarang terbang ke Jakarta

    Jho Low

    Jho Low

    Pemodal Malaysia keturunan Cina yang berasal dari pulau Penang, Low Taek Jho – lebih dikenal dengan panggilan Jho Low – digambarkan para penyelidik Malaysia dan AS sebagai salah satu otak di balik skandal penipuan 1MDB.

    Terlepas dari dirinya yang tak pernah menduduki jabatan apa pun dalam pengelolaan dana di sana, ia diduga memainkan peran krusial dalam aktivitas tersebut.

    Menurut wartawan Bradley Hope dan Tom Wright dalam buku laris yang mereka tulis, Billion Dollar Whale, yang menceritakan dugaan kesewang-wenangan Jho Low, jaringan luar biasa dan naluri bisnisnya yang cerdaslah yang memungkinkannya untuk berkembang.

    “Jho Low adalah sosok yang paling menarik dalam kasus 1MDB, sosok dalang yang misterius,” ujar Hope kepada BBC.

    “Menjadi sangat jelas sejak awal bahwa ia adalah titik penghubung di antara semua pihak yang terlibat dalam dana 1MDB – serta satu-satunya yang memiliki perspektif 360 derajat dari skema multi-miliar dolar ini.”

    Jaksa AS menyatakan bahwa Low memengaruhi jejaring politiknya yang kuat untuk memenangkan bisnis bagi 1MDB dengan membayar suap senilai ratusan juta dolar.

    Uang miliaran dolar, menurut mereka, dicuci melalui sistem keuangan AS dan digunakan untuk membeli sejumlah real estat termahal di dunia, karya-karya seni yang banyak diburu, dan mendanai produksi film-film Hollywood.

    Kapal pesiar terkenal milik Jho Low tampak bersandar di Pelabuhan Port Klangs Boustead di Selangor, MalaysiaHak atas foto Getty Images Image caption Kapal pesiar mewah seharga $US250 juta (Rp3,5 triliun) milik Jho Low yang ia namai ‘The Equanimity’

    Ia dikenal sebagai seorang pria yang suka menggabungkan bisnis dengan bersenang-senang.

    Pesta-pesta mewah dan hubungan pertemanan kelas atas dengan bangsawan Arab dan selebriti kelas wahid membuatnya cepat meroket.

    Bahkan, Britney Spears muncul dari dalam kue ulang tahunnya saat perayaan di Vegas tahun 2012 lalu.

    Dalam bukunya, kedua wartawan berspekulasi bahwa pada satu titik, Jho Low mungkin memiliki akses ke uang tunai lebih banyak daripada hampir semua orang di dunia.

    Namun kejatuhan pemerintahan Najib Razak menjadi kabar buruk bagi sosok Jho Low.

    Berbagai gugatan pidana dialamatkan kepadanya dan kini sosoknya buron di sejumlah negara.

    Keberadaannya saat ini tidak diketahui, namun ia tetap mengaku tidak bersalah dalam pernyataan di situs web resminya. Para pengacaranya mengatakan bahwa ia tidak dapat memperoleh persidangan yang adil di Malaysia.

    “Jho Low adalah sosok yang sangat tekun, namun ia juga teliti sekaligus sangat ceroboh. Ia dengan kalut membangun sebuah kerajaan dengan uang yang bukan miliknya dan pada akhirnya, seluruh rencananya menjadi putus asa dan tidak berkelanjutan,” ujar Hope.

    Timothy Leissner

    Tim LeissnerHak atas foto Getty Images

    Bankir lihai asal Jerman ini mewakili salah satu institusi keuangan terkuat dunia, Goldman Sachs, pada masa ketika bank itu tengah menggarap pasar Asia.

    Setelah krisis keuangan tahun 2008, kesepakatan yang dibuat Timothy Leissner di Asia Tenggara (khususnya Malaysia) menghasilkan pendapatan dalam jumlah signifikan bagi banknya, dan ia pun kemudian diangkat menjadi pemimpin perusahaan regional di kawasan tersebut.

    Namun kesepakatan terbesarnya tercapai saat ia bertemu dengan Jho Low – sosok yang diduga menjadi otak di balik 1MDB.

    Sebelumnya, Goldman menolak Low sebagai kliennya, setelah pejabat pemenuhan kepatuhan menyoroti sumber keuangannya.

    Namun, dalam dakwaan di AS, Leissner dan seorang bankir Goldman lainnya, Roger Ng, memanfaatkan jejaring kuat Low untuk mendapatkan kesepakatan bisnis bagi Goldman.

    Bank tersebut dituduh telah mendapatkan uang senilai USD600 juta (Rp8,5 triliun) sebagai imbalan karena telah mengatur dam menjamin tiga penjualan obligasi untuk meningkatkan dana sebesar $US6,5 miliar (Rp92,5 triliun) bagi 1MDB pada tahun 2012 dan 2013.

    Leissner telah mengaku bersalah atas dakwaan di AS karena telah berkonspirasi mencuci uang dan menyalahi undang-undang anti-korupsi dengan menyuap pejabat luar negeri.

    Malaysia juga telah melayangkan gugatan terhadapnya, Ng dan institusi Goldman Sachs sendiri. Ng pun membantah semua tuduhan yang dialamatkan padanya.

    Goldman Sachs yang menyangkal telah berbuat salah, menyebut tuduhan tersebut “salah alamat” dan berjanji akan “membela mereka sekuat tenaga”. Mereka menggambarkan sosok Leissner, yang mereka tangguhkan pada tahun 2016, telah berbuat “bandel” dan telah meminta maaf atas perilakunya.

    Namun pemerintah Malaysia menolak permohonan maaf tersebut dan meminta bank itu untuk membayar $US7,5 miliar (Rp106,7 triliun) untuk perbaikan.

    Para bintang

    Miranda Kerr, Paris Hilton dan Leonardo DiCaprio.Hak atas foto Getty Images Image caption Miranda Kerr, Paris Hilton dan Leonardo DiCaprio.

    Uang berbicara, tetapi apakah kekuatan status selebriti bersuara lebih lantang?

    Skandal 1MDB bukan hanya tentang para politikus dan penyandang dana yang kuat; pengusaha sekaligus buronan Jho Low sering berpesta dengan selebriti Hollywood papan atas.

    Tak satu pun di antara mereka dituduh melakukan kesalahan, namun hubungan sosial mereka dengan Low telah menjadi subjek pemberitaan media massa.

    Film Leonardo DiCaprio yang itu

    Aktor pemenang piala Oscar itu membintangi film The Wolf of Wall Street tahun 2013 lalu, di mana film itu juga diproduseri dan didanai Riza Aziz, putra kandung Rosmah Mansor dan putra tiri Najib Razak.

    Film garapan Martin Scorsese yang bercerita tentang keserakahan dan korupsi itu membuat DiCaprio memenangkan penghargaan Golden Globe sebagai Aktor Terbaik, di mana ia mengucapkan terima kasih kepada Aziz dan Low.

    Aktor Leonardo DiCaprio dan Jho Low menghadiri peluncuran perdana film 'The Wolf of Wall Street' pada 9 Desember 2013 di Paris, Perancis.Hak atas foto Getty Images Image caption Aktor Leonardo DiCaprio dan Jho Low menghadiri peluncuran perdana film ‘The Wolf of Wall Street’ pada 9 Desember 2013 di Paris, Perancis.

    Jaksa AS menyatakan bahwa uang 1MDB disalahgunakan untuk membiayai pembuatan film itu, dan bahwa produsen film tersebut, Red Granite, telah menyelesaikan gugatan perdata dengan pemerintah AS.

    Perusahaan tersebut membantah telah melakukan kesalahan. Sementara itu, DiCaprio telah berjanji akan membantu aparat AS dan telah menyerahkan sebuah lukisan Picasso yang diduga dihadiahkan Low kepadanya.

    Teman musisi Kasseem Dean (alias Swizz Beatz) dan Alicia Keys

    Kasseem Dean, produser rekaman ambisius dan istri superstarnya pernah berada dalam lingkaran pertemanan Jho Low, dan seringkali difoto ketika menghadiri pesta-pesta megahnya.

    Dean sendiri tampil dalam pesta perayaan ulang tahun ke-31 Low yang terkenal (di mana Britney berada dalam kue ulang tahun Low).

    Swizz Beatz, Alicia Keys dan Jho LowHak atas foto Getty Images Image caption Low menghadiri Grammy Awards 2014, malam paling penting dalam industri musik dunia, bersama Swizz Beatz dan Alicia Keys

    Dean juga disebut-sebut memperkenalkan Low ke dalam dunia seni yang mahal, di mana ia diduga telah membeli sejumlah karya seni termasuk gambar Van Gogh dan dua lukisan Monet dengan menggunakan uang 1MDB.

    Berpesta dengan Paris Hilton

    Teman-teman Low lainnya yang berasal dari kalangan selebriti sekaligus pewaris hotel Hilton, Paris, dikabarkan bertemu Low tahun 2009 lalu.

    Mereka kerap kedapatan bersama dalam foto-foto paparazzi (juga swafoto), berpesta keliling dunia – dari meja judi di Vegas ke lereng ski Whistler dan Saint-Tropez yang nyaman.

    Bermesraan dengan Miranda Kerr dan Elva Hsiao

    Apa kesamaan antara supermodel Australia dengan penyanyi sekaligus aktris Taiwan di atas? Keduanya pernah berhubungan dengan Jho Low.

    Setelah serentetan kencan mewah (termasuk berpesiar mengelilingi Eropa selama 10 hari), Low menghujani Miranda Kerr, salah satu supermodel termahal dunia, dengan sebuah kado luar biasa: sebuah grand piano transparan yang terbuat dari akrilik (senilai hampir USD1 juta alias Rp14,2 miliar) serta kalung berlian 11 karat dengan anting yang serasi.

    Sejak itu ia menyerahkan perhiasaan senilai jutaan dolar kepada jaksa AS.

    Low lalu mengajak penyanyi Taiwan Elva Hsiao menikmati kencan senilai jutaan dolar ke Dubai, di mana keduanya makan malam di pantai pribadi, menurut Billion Dollar Whale.

    Para reporter

    Kisah 1MDB tak akan pernah terungkap jika bukan karena kerja gigih para wartawan yang memburu cerita ini selama bertahun-tahun, melemparkan berita demi berita yang mengejutkan dan mendorong kasus dana 1MDB menjadi perhatian banyak pihak.

    Journalists Bradley Hope, Clare Rewcastle-Brown dan Tom WrightHak atas foto AFP/WALL STREET JOURNAL

    Clare Rewcastle-Brown, Sarawak Report

    Lebih dari satu dekade silam, wartawan Inggris kelahiran Malaysia ini mulai menyelidiki elit politik Malaysia dari meja dapurnya di London setelah menidurkan anak-anaknya.

    Situs web Sarawak Report miliknya awalnya berfokus pada sejumlah transaksi gelap di salah satu negara bagian Malaysia.

    Namun ketika salah satu transaksi awal 1MDB dilakukan di Sarawak, perhatiannya mulai bergeser kepada apa yang tampak seperti “pakaian yang sangat mencurigakan”.

    Pada akhir tahun 2013, ia menerima sebuah petunjuk bahwa putra tiri Najib telah memproduseri film The Wolf of Wall Street.

    “Itulah saat saya mulai menggali,” ujarnya. “Benar-benar hanya karena saya tidak bisa menolak sebuah cerita yang jelas-jelas penting.”

    Seiring jejak uang yang ia ikuti, temuannya mulai bergulir, memikat orang-orang Malaysia di mana media lokalnya sebagian besar tak mampu atau tak ingin mendalami cerita tersebut.

    Awal tahun 2015, Rewcastle-Brown menerima ‘harta karun’ berupa lebih dari 200.000 dokumen dari seorang whistleblower alias pembocor informasi Xavier Justo dan membuat sebuah dugaan mencengangkan: bahwa uang sebesar $US700 juta (Rp9,9 triliun) telah masuk langsung ke dalam sebuah rekening bank yang dimiliki oleh perusahaan yang dikuasai Jho Low sebagai bagian dari transaksi 1MDB.

    Beberapa bulan kemudian – dengan berita utama berjudul “TEMUAN SENSASIONAL!” – ia menerbitkan tulisan berisi rincian dugaan bahwa uang senilai $US700 juta (Rp9,9 triliun) telah disetor ke dalam rekening bank milik perdana menteri pada tahun 2013. Aparat Malaysia lantas memblokir situs webnya dan mengeluarkan perintah penangkapannya.

    “Saya memiliki sederet orang di seantero dunia yang bersedia menghubungi saya dengan berbagai informasi. Jelas sudah menjadi tugas saya untuk bertahan jika saya bisa,” ungkapnya.

    “Pada puncaknya, ada orang-orang yang disewa untuk menyakiti saya di London, membuntuti dan memfoto saya… Sampai-sampai saya harus lapor polisi.”

    Tom Wright dan Bradley Hope, The Wall Street Journal

    Buku tahun 2018 berjudul Billion Dollar Whale yang mereka tulis menjabarkan secara rinci dan teliti dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Jho Low dan langsung menjadi buku terlaris di Malaysia.

    Tetapi Tom Wright dan Bradley Hope telah menyelidiki jejak uang 1MDB selama bertahun-tahun di Wall Street Journal.

    “Berita biasanya tersusun tidak lebih dari 2.000 kata dan rasanya kami memotong banyak rincian menarik (dari kisah tersebut),” ujar Hope. “Kami tahu orang-orang kesulitan mengikuti skandal ini dan ada cerita yang lebih besar dan berwarna yang bisa dikulik dari sosok Jho Low secara khusus.”

    Hope mengatakan bahwa buku itu memperjelas seberapa buruknya skandal tersebut bagi Malaysia.

    “Ada begitu banyak kebisingan dan informasi yang salah di luar sana,” katanya.

    “Untuk melihatnya disajikan di satu tempat, fakta demi fakta, dengan sangat jelas membuat 1MDB menjadi salah satu skandal keuangan terbesar di dunia.

    Billion Dollar Whale menunjukkan bagaimana kasus itu bergulir secara kronologis dan membuat masalah tersebut menjadi relevan bagi banyak warga Malaysia.”

    Buku tersebut juga meningkatkan tekanan global dalam upaya memburu Jho Low (yang kini buron di sejumlah negara).

    “Para pembaca mengirimi kami surat dan para politikus (Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan Menteri Keuangan Lim Guan Eng) bahkan menggunakan dan merujuk buku kami untuk menjelaskan masalah terkait 1MDB,” tambah Hope.

    “Billion Dollar Whale mulai tersebar ke seluruh dunia dan mereka yang sebelumnya belum pernah mendengar 1MDB mengatakan kepada kami bahwa mereka sangat tertarik dengan kasus tersebut.”

    The Edge Malaysia

    Jika Anda tidak membaca apa pun kecuali surat kabar Malaysia dan hanya menonton laporan berita TV lokal pada puncak skandal 1MDB tahun 2015 lalu, Anda akan terkecoh untuk mempercayai bahwa semuanya baik-baik saja di negeri tersebut.

    Wartawan Malaysia dan para editornya menyadari dengan cepat bahwa pemberitaan terkait skandal dana investasi bisa membahayakan dan dapat mempertaruhkan lisensi operasional media mereka.

    Namun ada juga media yang tetap memberitakannya dan harus menanggung akibatnya. Salah satunya The Edge Media Group.

    Koran The Edge memberitakan penyelidikan atas aktivitas 1MDB dan berakhir dengan lisensi penerbitan koran mereka ditangguhkan dengan alasan “pemberitaan yang dapat memengaruhi ketertiban umum”.

    “Ini tidak lebih dari upaya untuk menutup kami agar kami tutup mulut,” ujar penerbit Ho Kay Tat saat itu.

    Tony Pua

    Tony Pua

    Tony Pua memimpin upaya gugatan terhadap 1MDB di Malaysia, di mana ia terus mengajukan pertanyaan saat menjadi oposisi di bawah pemerintahan Najib Razak.

    Kini, partainya lah yang berkuasa, namun Pua tetap vokal menghina mantan sang perdana menteri.

    “Najib Razak adalah pelaku utamanya. Jika kesimpangsiuran muncul akibat pernyataannya, saya akan muncul untuk membawa semuanya kembali pada jalur yang benar,” ungkapnya kepada BBC di sela kunjungannya di Singapura.

    Pua, yang juga merupakan sekretaris politik menteri keuangan Malaysia yang memimpin penyelidikan 1MDB, mengatakan bahwa ia tetap fokus “memperbaiki kerusakan yang telah terjadi terhadap perekonomian”.

    “Skandal keuangan itu adalah masa lalu dan tak ada lagi kebohongan, kini saatnya proses pembersihan,” ujarnya. “Kami harus menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan menutup lembaran kasus 1MDB adalah bagian besar di dalamnya.”

    Politikus asal Johor tersebut kerap menyesalkan kasus 1MDB di laman YouTube.

    “Saya tahu kenyataannya dan saya mengungkapkannya,” ujarnya. “Saya mendapatkan informasi dari berbagai dokumen dan para informan, lalu merangkai semuanya untuk disampaikan tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

    Namun, menurutnya, pengadilan atas Najib “hanyalah permulaan” dan proses hukum itu bisa berlangsung bertahun-tahun. “Teka-teki ini hampir lengkap, namun ada beberapa bagian yang hilang. Dan saya yakin pengadilan Najib Razak akan mengungkap beberapa di antaranya.”

    Setelah sejumlah penundaan, persidangan pertama terhadap Najib Razak akan dilakukan pada tanggal 3 April 2019.

    Waktu persidangan untuk sidang dua pengembangan kasus pun telah ditentukan.

    Jika terbukti bersalah atas banyak tindak pidana yang dituduhkan kepadanya, Najib akan mendekam di penjara selama puluhan tahun. Sementara hingga kini, Jho Low masih buron.

    Grafis oleh Davies Surya dan Arvin Supriyadi di Jakarta.


    Artikel yang berjudul “1MDB: Pria flamboyan, perdana menteri, penggila pesta di seputar skandal finansial global” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments