• Breaking News

    Ternyata film dengan tokoh utama perempuan justru lebih laris

    Wonder WomanHak atas foto Alamy Image caption Gal Gadot berperan sebagai Wonder Woman karakter superhero perempuan.

    Film-film yang tokoh utamanya perempuan, seperti Wonder Woman dan Moana ternyata lebih banyak meraup keuntungan dibanding film yang tokoh utamanya laki-laki.

    Jika Anda menyukai film Wonder Woman dan Moana karena menampilkan oleh karakter perempuan kuat, maka sepertinya Anda tidak sendirian.

    Keyakinan konvensional di Hollywood yang menganggap aktor-aktor pria bisa membuat film menjadi box office, seringkali menjadi penyebab bayaran yang lebih tinggi bagi para aktor.

    Namun menurut analisis terbaru, mungkin terjadi salah perhitungan, karena film-film dengan tokoh perempuan justru lebih laris di pasaran.

    Para peneliti mengkaji 350 film terlaris antara tahun 2014 dan 2017.

    Terlepas dari seberapa besar anggaran produksi itu: film-film dengan bintang perempuan yang meraih raupan tertinggi, menghasilkan lebih banyak uang ketimbang film-film yang dibintangi laki-laki.

    Yang sukses di periode tersebut diantaranya adalah film animasi Troll, dengan karakter utama yang disuarakan oleh Anna Kendrick, lalu Beauty and the Beast, dibintangi Emma Watson, serta Captain America: Civil War yang dibintangi Chris Evans, dan dua film dari seri Star Wars.

    Penelitian tersebut dilakukan oleh Creative Artists Agency (CAA) dan konsultan shift7, mereka membagi film-film itu ke dalam lima kategori berdasarkan anggaran, dimulai dengan yang dibuat dengan anggaran kurang dari $10 juta (Rp145 miliar) hingga $100 juta (Rp1,45 triliun) atau lebih.

    Mereka kemudian mengkaji apakah pemain yang memuncaki daftar adalah laki-laki atau perempuan. Di setiap tingkat anggaran, film-film dengan pemeran perempuan rata-rata bertengger di box office.

    Mereka juga mendapati film-film yang lolos uji Bechdel -tentang sosok ytama perempuan, yang meneliti tentang apakah ada perempuan dengan peran selain hubungan romantis dengan sosok utama laki-laki, secara komersial mengungguli film yang tidak lolos uji Bechdel.

    Hak atas foto Shutterstock Image caption Film Disney yang diproduksi tahun 2016, Moana menampilkan suara Auli’i Cravalho.

    “Ini adalah bukti kuat bahwa penonton ingin melihat semua orang terwakili di layar lfilm,” kata Amy Pascal, kepala Pascal Pictures dan mantan ketua Sony Pictures, yang memimpin kelompok kerja perempuan terkemuka di industri film. “Pengambil keputusan di Hollywood perlu memperhatikan ini.”

    CAA dan shift7 merupakan kelompok yang sama-sama dibentuk oleh gerakan TimesUp yang menyerukan perubahan hubungan gender dalam industri film.

    Standar kelayakan

    Uji Bechdel dikembangkan sebagai aturan praktis untuk melihat apakah perempuan digambarkan sebagai manusia seutuhnya dalam film, dan untuk bisa lolos film tersebut harus mengandung setidaknya satu adegan di mana perempuan berbicara dengan rekan perempuannya lagi.

    Dari film-film itu para peneliti melihat 60% yang lolos uji Bechdel. Dan film-film itu unggul secara komersial atas film-film yang gagal uji. Dalam kajian itu juga ditemukan bahwa setiap film yang menghasilkan lebih dari $1 miliar (Rp14 triliun) secara global (dalam rentang waktu penelitan) lolos uji Bechdel.

    Film terbaru yang tidak lolos uji Bechdel adalah The Hobbit: An Unexpected Journey pada tahun 2012, film tersebut menghasilkan lebih dari $1 miliar (Rp14 triliun).

    “Uji Bechdel ini merupakan standar kelayakan, dan mengherankan bahwa ternyata banyak film yang tidak lolos,” ujar anggota kelompok Founder of 3dot Productions, Liza Chasin. “Bisa dipahami, studio film berpikir soal penghasilan, jadi sangat bagus untuk melihat data yang berkembang yang seharusnya memudahkan para eksekutif untuk membuat keputusan yang lebih inklusif.”

    Hak atas foto Getty Images Image caption Emma Watson membintangi film Disney yang berjudul, Beauty and the Beast tahun 2017.

    Kalangan yang mendukung penelitian ini berharap pesan ini akan diterima, bahwa penting untuk menampilkan tokoh perempuan dalam peran yang lebih beragam, sehingga mereka bisa menginspirasi peran yang lebih luas seperti di bidang ekonomi, sains, teknologi, teknik dan matematika. .

    “Apa yang kita lihat di layar lebar mempengaruhi bagaimana kita melihat diri sendiri dan satu sama lain,” kata kepala eksekutif shift7, Megan Smith.

    “Ketika orang-orang yang secara tradisional kurang terwakili itu ditampilkan dalam pandangan stereotip, atau diabaikan sepenuhnya dari cerita, maka itu berarti kita merusak rasa percaya diri mereka sebagai teladan dan secara langsung menghambat potensi ekonomi dan sosial negara.”

    Aktris Geena Davis, yang membintangi film Thelma dan Louise tahun 1991, dan yang kini memproduksi film selain tetap berakting mengatakan: “Saya mulai mengumpilkan data dari tahun 2004, dan saya menyadari begitu banyak bias di bidang ini,” katanya.

    “Sesungguhnya melihat kaum perempuan dan para gadis remaja di layar film bukan hanya baik bagi setiap orang – khususnya anak-anak kita – namun ini juga merupakan hiburan dan bisnis yang bagus. “


    Artikel yang berjudul “Ternyata film dengan tokoh utama perempuan justru lebih laris” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments