• Breaking News

    Polsek Ciracas diserang: Polri didesak ‘tak tutupi’ identitas pelaku

    polsek ciracasHak atas foto ANTARA FOTO/Kahfie kamaru Image caption Garis polisi terpasang di depan Polsek Ciracas yang dirusak dan dibakar oleh massa di Jalan Raya Bogor, Ciracas, Jakarta Timur,Rabu (12/12/2018).

    Kepolisian Indonesia mengaku masih berupaya mengidentifikasi pelaku penganiayaan dan pengerusakan Polsek Ciracas di Jakarta Timur, meski sejumlah saksi mata menyebut terduga ‘berbadan tegap dan berambut cepak,’ dan video yang beredar luas menunjukkan sekumpulan pria meneriakkan kata “Komando!”.

    Juru Bicara Mabes Polri, Dedi Prasetyo, mengatakan tim gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres Ciracas masih memeriksa bukti-bukti berupa rekaman kamera CCTV, foto, dan video yang tersebar luas di media sosial.

    Dari situ, polisi akan mengidentifikasi wajah pelaku dengan sidik muka atau scientific crime identification.

    “Jadi kalau muka pelakunya bisa dikenali dari mata, hidung, telinga, mulut. Itu akan diidentifikasi sehingga betul-betul clear si A, B, C. Tidak katanya atau dugaan, tapi betul-betul dibuktikan secara ilmiah,” ujar Dedi Prasetyo kepada BBC News Indonesia.

    “Itu mengapa kita tidak bisa terburu-buru membuat kesimpulan hanya berdasarkan persepsi berpikir. Tapi dibuktikan secara ilmiah,” sambungnya.

    Selain mengecek bukti-bukti itu, tim juga sedang memeriksa sejumlah saksi mata yang ketika kejadian berada di sekitar lokasi dan melihat peristiwa pengerusakan tersebut.

    Dalam video yang tersebar di media sosial antara lain berdurasi 44 detik dan 56 detik itu tampak sekumpulan orang berkerumun di halaman Polsek Ciracas pada malam hari. Mereka menagih janji Kapolres yang belum juga menangkap pelaku pengeroyokan terhadap seorang anggota TNI AL, sehari sebelumnya.

    Seorang di antara massa itu kemudian meneriakkan kata “Komando!” yang diikuti oleh yang lain.

    Seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai Kapten Joko, lantas memerintahkan massa membubarkan diri.

    “Sekarang baris, kalau mau menunggu Kapolres, ya tunggu tapi tertib. TNI tidak ada yang liar,” ucap Kapten Joko yang diduga adalah korban pengeroyokan oleh sejumlah tukang parkir di ruko Arundina.

    Hak atas foto ANTARA FOTO/Reno Esnir Image caption Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menunjukkan terduga kasus pengeroyokan anggota TNI, di Polda Metrojaya, Jakarta, Kamis (13/12).

    Juru Bicara Mabes Polri, Dedi Prasetyo, menyebut video tersebut sedang didalami timnya.

    “Video itu harus kita verifikasi sumbernya,” ujarnya singkat sembari menegaskan bahwa pelaku penganiayaan dan pengerusakan Polres Ciracas belum tentu anggota TNI.

    “Kalau kita men-judge suatu kelompok dasarnya apa? Karena ini perbuatan pidana, pertanggung jawabanya orang perorang. Itu harus jelas.”

    Akibat insiden yang terjadi pada Selasa (12/12) dini hari itu, tiga polisi terluka. Dua di antaranya sudah keluar RS Polri Kramat Jati. Namun, sebagian besar gedung Polres rusak parah.

    “(Kerusakan) lumayan sekitar 50% dan harus direnovasi. Jadi sedang dihitung berapa kendaraan yang rusak berat, sedang, ringan,” jelas Dedi.

    Teriakan “Komando!” itu meragukan

    Bermula dari pengeroyokan yang dilakukan sejumlah tukang parkir terhadap seorang anggota TNI AL, pada Senin (10/12) di kawasan pertokoan Arundia, Cibubur.

    Esoknya, sekitar 200 orang merangsek masuk ke Polsek Ciracas untuk mencari terduga pelaku dan menanyakan penanganan kasusnya.

    Kapolres Jatim kemudian menyampaikan kepada massa bahwa penanganan kasus dilakukan dalam waktu dua hari dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Massa kemudian diminta pulang oleh Dandim dan Danrem.

    Namun massa tidak puas atas penjelasan Kapolres. Kemudian sekitar pukul 00.14 WIB, mereka datang kembali dan merusak gedung dan membakar mobil polisi.

    Kapendam Jaya, Kristomei Sianturi, meragukan video yang beredar di media sosial yang menunjukkan massa yang berkumpul di halaman Polsek Ciracas itu meneriakkan kata “Komando!” dan diikuti oleh yang lain.

    Menurutnya, siapapun bisa meneriakkan kata-kata seperti itu dan balasan komando seorang prajurit TNI lebih lantang.

    “Saya nggak yakin teriakan komando itu. Tidak begitu kalau TNI. Prajurit tidak begitu. Kalau ada teriakan ‘Komando!’, dijawab ‘Komando!’. Dia (prajurit) teriak langsung dan dengan semangat,” tukasnya.

    Dia juga mengatakan, tidak semua anggota TNI bisa langsung diketahui hanya karena berbadan tegap dan berambut cepak. Apalagi kejadiannya malam hari, sambung Kristomei.

    Karenanya ia meminta masyarakat yang mengetahui ataupun mengenali seorang di antara massa itu adalah anggota TNI agar segera melapor. Dia berjanji, TNI tidak akan melindungi pelaku.

    “Kita tidak bisa menuduh. Pokoknya kalau ada yang tahu informasi dan tahu bahwa dia (pelaku) TNI, lapor. Kita pasti tindaklanjuti. Tapi sampai sekarang belum ada yang lapor,” ujarnya.

    “Kalau ada anggota TNI (terlibat) pasti kita akan terbuka. Hari gini nggak ada yang ditutup-tutupi.”

    Polri harus transparan mengungkap kasus Polsek Ciracas

    Pengamat Kepolisian dari Institut for Security and Strategic Studies (ISeSS), Bambang Rukminto, berharap Polri tidak menutup-nutupi pelaku penganiayaan dan pengerusakan Polsek Ciracas di Jakarta Timur. Sebab hal itu baik untuk memperbaiki hubungan TNI dan Polri yang kerap bergesekan.

    Dia bahkan mewanti-wanti, jangan sampai Polri dianggap tak berdaya menghadapi anggota TNI. Sebab penanganan kasus ini mempertaruhkan kewibawaan Polri sebagai penegak hukum.

    “Karena orang bisa berasumsi ke sana kalau tidak dibuka secara transparan. Jadi kalau salah, katakan salah. Kalau ada anggota TNI yang melanggar dibuka saja. Tidak ada konsolidasi tanpa keterbukaan,” jelas Bambang Rukminto kepada BBC News Indonesia.

    Hak atas foto ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan Image caption Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (keempat kanan) dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kedua kanan) meninjau peserta Apel Kesiapan TNI di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/2018).

    Dari pengamatannya, hubungan TNI dan Polri belum sepenuhnya membaik, meski Panglima TNI dan Kapolri kerap menggelar kegiatan bersama. Namun di level bawah, friksi masih terjadi.

    “Karena ego sektoral, jiwa korsa yang kebablasan itulah. Makanya ke depan sinergi semacam latihan bersama harus dilakukan. Agar masing-masing (institusi) bisa memahami tupoksinya. Kalau selama ini sering muncul semacam kecemburuan,” jelasnya.

    Ganjalan lain, menurutnya, Polri masih “terbelenggu” pada masa lalu dimana ketika Orde Baru fungsi keamanan dipegang militer. Padahal semestinya kedua institusi tersebut, kata Bambang, menyadari posisi masing-masing.

    “Jadi Polri ada rasa ewuh pakewuh (sungkan) dengan saudara tua. Sehingga polisi sangat ‘menghargai’ militer. Padahal kalau berpikir tupoksinya berbeda kan. Polisi jaga keamanan, tentara pertahanan. Ini yang harus segera diperbaiki dengan mengubah mindset.”


    Artikel yang berjudul “Polsek Ciracas diserang: Polri didesak ‘tak tutupi’ identitas pelaku” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments