• Breaking News

    Demonstrasi rompi kuning: Presiden Macron janjikan kenaikan upah minimum

    Media playback tidak ada di perangkat Anda

    Presiden Macron mengatakan ia ‘bertanggung jawab’ atas ‘tanggapan yang tak memuaskan’ terhadap para demonstran ‘rompi kuning’.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menjanjikan kenaikan upah minimum dan konsesi pajak sebagai tanggapan atas aksi unjuk rasa yang berlangsung ricuh selama berminggu-minggu.

    Kerusuhan akibat demonstrasi yang memprotes kenaikan pajak bahan bakar, biaya hidup, dan masalah lainnya sudah berlangsung selama empat pekan di Prancis.

    Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Macron mengutuk kerusuhan itu, namun ia mengatakan bahwa kemarahan para demonstran itu “dalam, dan dalam banyak hal memang masuk akal”.

    Upah minimum akan naik sebesar €100 (Rp1,6 juta) per bulan setelah tahun 2019, katanya.

    Kenaikan pajak yang direncanakan untuk pensiunan berpenghasilan rendah akan dibatalkan, upah lembur tidak akan dikenakan pajak lagi, dan pengusaha akan didorong untuk membayar bonus akhir tahun bebas pajak kepada karyawan, tambahnya.

    Namun, ia menolak untuk kembali menetapkan pajak pada orang kaya, mengatakan bahwa “ini akan melemahkan kita, kita perlu menciptakan lapangan kerja.”

    Hak atas foto Reuters Image caption Beberapa pengunjuk rasa berkumpul menyaksikan pidato Macron di televisi.

    Upah minimum akan naik sebesar 7% – dan biaya kenaikan ini akan dipenuhi oleh pemerintah bukan pemberi pekerjaan.

    Menteri pemerintah Olivier Dussopt mengatakan kepada saluran televisi BFMTV, biaya keseluruhan dari semua langkah itu kemungkinan berkisar antara €8 miliar (Rp133 triliun) hingga €10 miliar (Rp166 miliar).

    “Kami sedang membuat penyesuaian dan mengkaji bagaimana membiayainya,” tambahnya.

    Macron tidak punya pilihan

    Analisis wartawan BBC, Hugh Schofield,di Paris

    Mereka menginginkan lebih dari sekedar janji seorang politisi. Mereka menginginkan tindakan, uang di kantong mereka, perubahan nyata dalam kemiskinan yang mereka hadapi sehari-hari.

    Presiden Macron menangkap pesan tersebut. Bahkan ia tidak punya pilihan. Mengatakan tantangan masa depan dan kebutuhan untuk pembangunan bangsa mungkin dapat mengalihkan perhatian para demonstran rompi kuning.

    Jadi di sini – inti dari pidato tersebut – ada empat perubahan sederhana: kenaikan upah minimum; penghapusan pajak dan biaya sosial pada waktu lembur; dorongan kepada pemberi kerja untuk memberikan bonus bebas pajak kepada para pekerja; dan mengakhiri biaya tambahan bagi sebagian besar pensiunan.

    Ditambah sebuah catatan penyesalan, dan janji “kontrak nasional” baru yang dibuat di atas perubahan pemilu dan konsultasi yang lebih luas dengan berbagai provinsi.

    Konsesi sudah digulirkan – mengakhiri kenaikan pajak bahan bakar dan janji “mobilitas” diberikan untuk orang-orang yang mengendarai mobil ke tempat kerja – dan ‘rompi kuning’ tiba-tiba muncul sebagai salah satu gerakan protes yang paling sukses dari zaman modern.

    Empat minggu setelah video pertama diunggah di Facebook, mereka memaksa reorientasi total kebijakan sosial dan ekonomi Prancis. Dan bahkan tanpa mengeluarkan daftar tuntutan formal.

    Apa yang Macron katakan soal demonstrasi tersebut?

    Macron, yang hingga kini tidak banyak muncul di publik selama demonstrasi berlangsung, mengaku bahwa banyak orang tidak senang dengan kondisi hidup dan merasa mereka “tidak pernah didengarkan”.

    Ia mengatakan bahwa selama 40 tahun terakhir telah terjadi “kelesuan” di “desa-desa dan berbagai lingkungan, di mana layanan publik berkurang dan kondisi hidup memburuk”.

    Ada banyak “orang yang statusnya di masyarakat belum cukup diakui. Dengan tak berani, kita menjadi terbiasa dan semua tampaknya menunjukkan bahwa kita telah melupakan mereka.”

    “Saya berasumsi situasi tersebut – mungkin saya terkesan memiliki kekhawatiran dan prioritas lain. Saya tahu sebagian dari Anda mungkin sakit hati dengan kata-kata saya,” tambahnya.

    Macron, seorang mantan bankir, sebelumnya pernah dikritik karena tidak pernah berhubungan dan mendengarkan perjuangan orang-orang biasa.

    Ia berupaya mengubah kesan ini pada hari Senin (10/12), berjanji untuk bertemu semua walikota dari seluruh wilayah Prancis, dan menganjurkan “debat yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

    “Kita harus mengatasi masalah imigrasi,” tambahnya, sembari mendesak bangsanya bersama-sama “berubah guna mempertimbangkan perubahan iklim dan berbagai tantangan lainnya”.

    Reaksi apa yang telah terjadi?

    Proposal-proposal itu ditolak oleh seorang pengunjuk rasa rompi kuning, Benjamin Cauchy, yang mengatakan kepada France 2 TV: “Langkah ini dilakukan setengah-setengah. Kami kira Macron punya lebih dari itu.”

    Beberapa lawan politiknya juga cukup kritis: pemimpin sayap kiri Jean-Luc Melenchon berharap demonstrasi yang lebih banyak lagi.

    Sementara politisi sayap kanan Eric Woerth menggambarkan langkah itu sebagai solusi “jangka pendek”, dan pemimpin sayap kanan-jauh Marine Le Pen mengatakan, Macron sudah membahas sebagian, namun tak semua kesalahannya.

    Sementara itu, sekelompok LSM antirasisme, SOS Racisme, mengatakan kepada surat kabar Le Figaro mereka prihatin dengan komentar Macron tentang imigrasi.

    Apa itu gerakan rompi kuning?

    Para pengunjuk rasa mengambil nama itu dari kampanye media sosial yang mengajak orang-orang untuk turun ke jalan mengenakan jaket kuning menyolok yang harus dibawa di setiap kendaraan di Prancis.

    Mereka awalnya memprotes kenaikan bea masuk diesel, yang banyak digunakan oleh para pengendara di Prancis dan sudah lama tidak dikenakan pajak mahal dibandingkan jenis bahan bakar lainnya.

    Macron mengatakan pajak yang lebih tinggi pada bahan bakar fosil diperlukan untuk mendanai investasi energi terbarukan.

    Namun demonstrasi ini merembet kepada persoalan lainnya, termasuk desakan untuk menaikan upah, pajak yang lebih rendah, pensiun yang lebih baik dan persyaratan masuk universitas yang lebih mudah.

    Gerakan rompi kuning ini mendapat dukungan luas, mereka menyoroti frustrasi ekonomi dan ketidakpercayaan politik kelompok pekerja yang lebih miskin.

    Rangkaian unjuk rasa:

    17 November: 282,000 pengunjuk rasa – 1 orang meninggal, 409 terluka – 73 ditahan. 24 November: 166,000 pengunjuk rasa – 84 orang terluka – 307 ditahan. 1 December: 136,000 pengunjuk rasa – 1 orang meninggal, 263 terluka – 630 ditahan. 8 December: 136,000 pengunjuk rasa – 118 terluka – 1,220 ditahan.

    Artikel yang berjudul “Demonstrasi rompi kuning: Presiden Macron janjikan kenaikan upah minimum” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments