• Breaking News

    Ketika kaum milenial ‘dipaksa orang tua’ ikut pendaftaran CPNS

    pns, cpns, seleksi pnsHak atas foto ANTARA FOTO Image caption Seorang pelamar calon pegawai negeri sipil (CPNS) memperlihatkan berkas lamaranuntuk dikirim di Kantor Pos Besar Medan, Sumatera Utara, Senin (15/10).

    Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sepertinya bukan ide yang menarik bagi sebagian kaum milenial.

    Tetapi ketika pendaftara calon PNS ternyata dijejali ratusan ribu milenial, bagaimana penjelasannya?

    Wartawan BBC News Indonesia, Famega Syavira, berbincang dengan pembaca dan pakar untuk mengetahuinya lebih lanjut.

    Muhammad Khamzah Syawal sebetulnya enggan jadi pegawai negeri tapi tetap ikut mendaftar CPNS tahun 2018, Sebagai anak, dia merasa punya kewajiban menyenangkan orang tuanya dengan cara memenuhi permintaan mereka.

    “Mungkin pemikiran orang tua mengenai ‘pekerjaan yang layak’ tidak jauh-jauh dari PNS, sehingga orang tua meminta saya untuk tes,” kata salah seorang pembaca BBC itu.

    Muhammad sejatinya ingin berkarier di dunia pendidikan tinggi. Untuk itu, dia sebenarnya berharap untuk melanjutkan kuliah.

    Solusinya, sembari tes, dia juga mencari peluang lain yang bisa mewujudkan keinginannya.

    “Saya juga tetap berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi,” kata pria berusia 25 tahun ini.

    Liza Aurora, pembaca BBC berusia 25 tahun, juga mengikuti seleksi CPNS karena orangtuanya berharap dia bisa jadi PNS. “Saya disuruh orang tua karena beliau berpikir berkarier sebagai PNS lebih baik untuk perempuan karena punya penghasilan tetap, jenjang karier yang lebih aman dan punya jaminan untuk hari tua,” kata Liza yang sebenarnya ingin berwiraswasta.Dia pun mendaftar dengan setengah hati. Tapi ketika mengetahui bahwa syarat mendaftar sebagai CPNS tidak rumit dan informasinya jelas, Liza pun “tidak menyesal”.

    Menurut data Badan Kepegawaian Negara, total ada 3,47 juta orang yang mendaftar sebagai calon PNS tahun 2018. Pada hari terakhir penutupan, Senin (15/10), ada sekitar 250.000 orang menyelesaikan pendaftaran mereka.

    Jutaan orang akan bersaing demi mendapatkan 238.015 posisi di berbagai lembaga negara, kementerian maupun pemerintah daerah dan pusat. Syarat mendaftar PNS adalah berusia 18-35 tahun.

    Dianggap pekerjaan paling aman

    Yustika Noor Arifa, career coach yang belajar master di bidang Career Development and Coaching Studies dan kandidat doktor di Universitas Vrije di Amsterdam, Belanda, menjelaskan bahwa generasi yang lebih tua memang lebih menginginkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil yang dinilai lebih terjamin.

    “Menurut generasi yang lebih tua, pekerjaan yang paling aman di Indonesia adalah menjadi PNS, karena ada asuransi, tunjangan hari tua, anaknya ditanggung, istrinya ditanggung ketika suaminya sudah tidak ada dan lain-lain. Sehingga itu yang paling aman,” kata Yustika.

    Hak atas foto BBC/Arvin Supriyadi

    Menurut pengalamanya, banyak yang mendaftar CPNS karena dorongan orang tua.

    “Padahal anak-anak zaman sekarang trennya kutu loncat. Mereka sering tidak betah berada dalam pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun,” kata Yustika.

    Menurut Yustika, faktor paling menarik dari pekerjaan itu adalah keterjaminan.

    Sementara anak muda punya kebutuhan lain selain pekerjaan yang terjamin. Meski demikian, bukan berarti milenial tidak bertanggung jawab.

    “Zaman dulu pekerjaan paling aman adalah PNS yang semua sudah disiapkan dengan pemerintah. Zaman sekarang meskipun kutu loncat semua bisa disiapkan sendiri, misalnya asuransi, jaminan hari tua yang seperti apa juga bisa direncanakan sendiri,” kata dia.

    Milenial suka pekerjaan yang beri ‘kebebasan’

    Secara global, ada tren di kalangan generasi muda yang mengejar “karier tanpa batasan”.

    Perjalanan menuju “karier tanpa batasan” ini bermula karena teknologi yang memungkinkan pengambilan informasi kapan saja, di mana saja.

    “Ini fenomena global bahwa kita sebagai pekerja tidak hanya dibatasi oleh satu instansi saja. Tempat kerja tidak lagi menjadi batasan seseorang untuk bekerja,” kata dia.

    Seseorang bisa terkoneksi tak hanya dengan satu pekerjaan tapi juga dengan berbagai macam pekerjaan karena keterbukaan dan informasi.

    “Hal itu menyebabkan orang berpikir bahwa kariernya tidak hanya di kota itu atau di negara itu saja. Bisa berpikir akan bekerja di negara lain akibat perkembangan teknologi dan globalisasi,” kata Yustika.

    Akibatnya, banyak yang tidak ingin bekerja sebagai PNS.

    Alasan senada diungkapkan para pembaca BBC yang tak ingin menjadi PNS karena berbagai macam alasan, di antaranya adalah “ingin mencari kebebasan”, dan takut dengan “pekerjaan yang terikat seumur hidup”.

    Banyak juga yang bercita-cita menjadi pengusaha.

    Jumlah gaji yang dianggap sedikit juga menjadi salah satu faktor penyebab beberapa orang enggan jadi pegawai negeri.

    Mereka mengaku ingin gaji lebih besar dan pengalaman baru yang menarik. “Tidakkah kita senang dengan pekerjaan yang sekarang, gaji besar, bahkan lebih besar dari PNS,” kata pembaca bernama Yudha.

    “Anak zaman sekarang memang lebih mencari tantangan, pengalaman dan mempertimbangkan image pekerjaan. Ingin tampil keren menjadi salah satu pertimbangan mencari pekerjaan,” kata Yustika.

    Misalnya pekerjaan non-PNS yang melibatkan travelling, yang dapat “dipamerkan” di media sosial bahwa pekerjaan mereka asyik dan lebih menarik.

    Hak atas foto Instagram @BBCIndonesia Image caption Alasan pembaca BBC Indonesia mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil.

    Ingin mengabdi ke negara

    Tapi, ada juga anak muda yang tidak menganggap status sebagai PNS tidak menarik.

    Muhammad Eval Juni Wijaya, lulusan teknik geologi, secara sadar mendaftar sebagai CPNS di Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sebagai ahli jalan pertama.

    Eval mengaku ingin mendaftar sebagai PNS untuk memanfaatkan ilmu yang telah dipelajarinya di bangku kuliah.

    “Saya setuju ikut tes CPNS. Sekarang (pemerintah) lebih banyak merekrut tenaga teknis atau ahli sesuai bidang keahliannya. Jadi, saya merasa ilmu saya bisa bermanfaat jika diabdikan ke negara, sehingga banyak manfaatnya ke masyarakat,” katanya.

    Tak hanya bertujuan untuk mendapatkan jaminan hidup, Eval menginginkan pekerjaan yang bermakna dan memberikan dampak positif.

    “Jika saya bekerja untuk keuntungan perusahaan, jelas saya berpenghasilan, tapi tidak ada efek langsungnya untuk masyarakat,” kata dia.

    Hak atas foto Getty Images Image caption Banyak juga yang masih antusias melamar jadi PNS karena ingin mengabdi kepada negara.

    Frederikus Dapriano Setioadi, yang mendaftar untuk menjadi PNS di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyatakan bahwa motivasinya mendaftar adalah karena keinginannya untuk ikut memajukan daerahnya.

    “Saya kuliah di Yogyakarta dan melihat inovasi kaum muda di dalam pemerintahan Yogya untuk memajukan daerahnya, itu yang ingin saya terapkan di Manggarai,” kata Dafri.

    Jika Muhammad Eval dan Frederikus merasa bisa membuat perubahan dengan menjadi PNS, ada juga yang justru enggan masuk ke dalam sistem pemerintahan.

    “Mungkin terlanjur ilfil karena kebanyakan PNS yang pernah ditemui tak jauh-jauh dari perbuatan korup baik besar maupun kecil,” kata Yohana, salah satu pembaca BBC.

    Enggan bekerja dalam sistem yang dianggap korup ini menjadi alasan yang banyak disebutkan.

    Meskipun enggan bekerja untuk negara, bukan berarti mereka yang tak ingin jadi PNS itu tak ingin mengabdi negaranya.

    “Saya ingin mengabdi kepada negara dengan cara saya sendiri,” kata Dita Witdya.


    Artikel yang berjudul “Ketika kaum milenial ‘dipaksa orang tua’ ikut pendaftaran CPNS” ini telah terbit pertama kali di:

    Sumber berita

    No comments